Ida Pandita Mpu Natha Jaya Kusuma

Setiap insan Hyang Widhi yang diberikan kesempatan untuk memperbaiki karma-karmanya, diberikan garis kehidupan sesuai karmanya juga. Sementara itu, sulinggih yang satu ini, juga diberikan perjalanan hidup yang berkelok-kelok bagaikan aliran sungai menuju samudera. Lebih-lebih hidup dalam keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang boleh dikatakan serba kekurangan..

Candi Penataran di Desa Panataran, Nglegok, Blitar, Jatim, "Jejak Peninggalan Hindu Majapahit"

Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang mulai dibangun dari kerajaan Kediri dan dipergunakan sampai dengan kerajaan Majapahit. Candi Penataran terdiri atas beberapa gugusan, sehingga lebih tepat kalau disebut kompleks percandian yang melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur..

Keris Bali Bersejarah, "Ki Tunjung Tutur

Menurut kepercayaan masyarakat di Jawa, keris dapur marak dipercaya memiliki tuah untuk mendukung loyalitas dan kesetiaan terhadap pemimpin, menambah wibawa dan karisma pemiliknya. Keris ini cocok dan sesuai dipergunakan oleh para pegawai atau pamong praja. .

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur, Baturiti, Tabanan, "Genah Metapa, Mohon Jabatan""

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur merupakan kawasan tapa wana, dilestarikan sehingga tidak ada bangunan lain di lokasi ini kecuali terkait dengan pemujaan. Lokasi pura ini dulunya dikenal dengan tempat pertapaan Resi Segening. Seringkali orang datang memohon jabatan ataupun taksu sebagai pemimpin..

Parade Gong Kebyar Wanita Bius Penonton

Parade gong kebyar wanita antara duta Kabupaten Badung dan duta Kabupaten Tabanan pada (23/06) lalu di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 mendapat sambutan meriah, karena penampilannya menjadi primadona aktivitas seni tahunan ini. Duta Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Dharma Kanti Desa Adat Sobangan, Kabupaten Badung dan Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Desa Adat Tunjuk, Kabupaten Tabanan. Seperti apa meriahnya parade gong kebyar ini, berikut liputannya..

Minggu, 21 Agustus 2011

Hal Pemanes Karang


Segala yang disebut Pamanes Pekarangan, seperti: Kemasukan gelap, dan terbakar, patut membangun palinggih berupa Padma rendah, sthana Sang Hyang Indra Blaka. Apabila tidak membangun sthana untuk Sang Hyang Indra Blaka, tidak putus-putusnya menemukan sakit bermacam-macam, walaupun hingga sepuluh kali telah macaru, tak akan bisa selesai oleh caru itu, karena Beliau Sang Hyang Indra telah berubah menjadi Sang Hyang Indra Blaka, menjadi Kala Maya, menjadi Kala Desti, demikian dinyatakan.

Caru Ngamatiang Semer
Pangelemnya:
Daksina 1, mwah nasi wong-wongan ireng iwaknya kakul, Perasnya matumpeng ireng, iwaknya pencok kacang, ay am ireng pinanggang, mwangjijih makaput antuk tapis, kawangen 7, dadi pangelem, maduluran nasi salah warna limang warna, iwaknya saka wenang, alednya klakat sudamala.
Maksudnya :
Caru mematikan/menimbun sumur: Banten untuk upacara menimbunnya terdiri dari: sebuah Daksina dan nasi wong-wongan hitam ulam kakul/sipvit, Banten Perasnya memakai tumpeng hitam ulamnya pencok kacang, seekor ayam berbulu hitam dipanggang dan/ytfi/biji padi dibungkus dengan tapis, 1 buahkawangen, dijadikan saranapenimbunan yang akan ditanampada
sumur, ditambahi nasi sasah salah warna 5 warna, ulamnya apa saja boleh, alasnya memakai klakat sudamala.
Mantram :
Om Nini Pamali Wates, Kaki Pamali Wates, tan hana jurang pangkung, Aku Ibu Pretiwi, anglebur sakalwiring hala. Om Sudha sih, Kala sih, Dewa Teka purna Om Sa Ba Ta A1, Sang, Patang.

Karang Panes
"Sakalwiring pamanes pakarangan, Iwirnya : Kapanjingan gelap, mwang puwun, wenang ngadegang palinggih Padma andap, palinggih Sang Hyang Indra Blaka. Yan tan adegang palinggih Sang Hyang Indra Blaka, tan pegat amanggih lara rogha, wiyadin ping dasa carunin, tan sidha purna saking caru ika, apan Sang Hyang Indra dadi Sang Hyang Indra Blaka, dadi Kala Maya, dadi Kala Desti, mangkana kojarannya.
Maksudnya:
Segala yang disebut Pamanes Pekarangan, seperti: Kemasukan gelap, dan terbakar, patut membangun palinggih berupa Padma rendah, sthana Sang Hyang Indra Blaka. Apabila tidak membangun sthana untuk Sang Hyang Indra Blaka, tidak putus-putusnya menemukan sakitbermacam-macam, walaupun hingga sepuluh kali telah macaru, tak akan bisa selesai oleh caru itu, karena Beliau Sang Hyang Indra telah berubah menjadi Sang Hyang Indra Blaka, menjadi Kala Maya, menjadi Kala Desti, demikian dinyatakan.
"Muwahyan hana karang tumbak rurung, tumbakjalan, tumbak tukad, manamping marga, pempatan, namping Pura, namping Bale Banjar, makadinya ngulonin Bale Banjar, panes karang ika".
Maksudnya:
Dan apabila ada pekarangan berpapasan dengan gang atau jalan kecil, jalan, berpapasan dengan sungai, bersebelahan dengan jalan, perempatan jalan, bersebelahan dengan Pura, bersebelahan dengan Bale Banjar, seperti di hulu Bale Banjar, panas pekarangan itu.
"Muwahyan hana bumi sayongan, katiban kuwug-kuwug, panes burnt ika. Yaning pakarangannya metu kukus, panes karang ika. Maksudnya:
Dan apabila ada sayongan pada pekarangan disertai dengan suara gemuruh dari langit ciri panas bumi itu. Apabila pada pekarangan muncul kukus, ciri panas pekarangan itu.
Yan hana sanggah pungkat, mwang jineng, pawon pungkat, tan pakarana, mwang katiben amuk, kalebon amuk, panca bhaya, ngaran, panes karang ika.
Muwah pungkatne tan pakarana, tan wit ginawe pungkat, kewala pungkat, ya tan wenang ingangge lakarnya, wenang pantesin lakare sami."
Maksudnya:
Apabila ada Sanggah roboh, danjineng/tempai menyimpan padi, dapur roboh tanpa penyebab, dan kedatangan orang berkelahi, terlaksana sebagai tempat perkelahian, Panca Bhaya, disebutkan panas pekarangan itu.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 16.  Terima kasih.

Ngutpeti-Stiti Sang Hyang Brahma


Pikiran lurus bersih dan cara hidup sederhana membuat seseorang merasa hidup bahagia. Hidup dengan akal yang banyak dan pikiran yang menjelimet cenderung membuat seseorang merasa tidak bahagia. Demikian juga hidup di jalan spiritual. Teknik Samadhi yang rumit akan sulit mencapi  tujuan tertinggi. Justru teknik yang sederhana mengantarkan seseorang mencapai tujuan tertinggi dengan cepat.

Seorang penganut Tantra yang tekun akan mengalami peningkatan spiritual secara bertahap. Setelah latihan beberapa lama dia akan naik  dari spiritual biasa ke tingkat spiritual sidhi. Kemudian meningkat lagi ke tingkat spiritual suci dan akhirnya sampai pada tingkat spiritual mulia.
Sidhi artinya sesuatu yang diinginkan atau yang dikehendaki akan berhasil. Kata sidhi kurang popular di Bali. Di pulau seribu pura ini, pengertian  tersebut lebih dikenal dengan sebutan sakti.
Untuk meningkatkan spiritual biasa menjadi spiritual sakti relatif gampang. Orang yang berlatih Tantra, yang biasa melakukan samadhi, cenderung untuk bisa mencapai kesaktian walaupun tidak menguasai teknik Samadhi dengan benar. Asal rutin Samadhi di rumah atau rajin tangkil dan meditasi di tempat-tempat suci atau tenget, maka kesaktian akan gampang diperoleh.
Yang sulit adalah mendaki dari spiritual sakti ke spiritual suci. Orang bilang, sulitnya seperti memasukkan gajah ke lubang jarum. Kalau seseorang mulai belajar Samadhi dengan pengetahuan  dasar yang cukup dan benar, disertai pengendalian diri yang ketat dia akan lancar mendaki dari spiritual sakti ke spiritual suci. Tapi kalau dia mulai belajar  Samadhi dengan jurus mabuk, asal duduk diam sambil memejamkan mata, maka setelah mencapai spiritual sakti dia akan kesulitan naik ke spiritual suci. Walaupun belajar berpuluh-tahun, dia akan tetap berada pada tingkat kesaktian. Kalau diibaratkan seperti orang berjalan, dia merasa seperti sudah berjalan jauh sekali. Tapi sebenarnya dia berjalan berputar-putar di tempat yang sama, dan tidak pernah meninggalkan daerah itu.
Aturan pertama dalam Samadhi adalah tidak boleh mengingat dan memikirkan apapun. Tidak boleh memikirkan hal-hal yang baik. Juga dilarang mengingat hal-hal yang buruk. Jadi lakukan Samadhi dengan pikiran diam, tenang dan damai. Penulis berkali-kali menekankan hal ini karena aturan ini merupakan kunci pertama untuk membuka pintu keberhasilan.
Aturan kedua adalah : ”Jangan melakukan olah prana”. Jangan melakukan rekayasa dengan cara membayangkan ada api, sinar atau hal-hal lain dalam tubuh. Jangan membayangkan atau sengaja merasakan seolah-olah ada energi dalam tubuh dan bergerak menurut pola-pola tertentu. Kalau Anda membayangkan hal-hal seperti itu, semuanya adalah rekayasa Anda sendiri. Semua itu adalah keinginan Anda pribadi (walaupun Anda mendapat teknik itu dari buku atau seorang guru). Keinginan berarti rajas. Dengan mengikuti keinginan Anda dalam Samadhi berarti Anda menumbuh-kembangkan sifat rajas, egois dan mau menang sendiri. Jauh menyimpang dari tujuan hakiki ajaran Samadhi yaitu mengembangkan sifat-sifat suci, mulia dan bijaksana.
Pengembangan rajas akan membuahkan kesaktian, tapi sulit untuk mencapai kesucian. Karena jalan ke arah kesucian adalah jalan satwam. Anda akan seumur-umur tetap berada pada tingkat kesaktian tanpa menemukan jalan ke arah kesucian.
Kenapa demikian?
Karena  Anda memulai Samadhi dengan ambisi, keinginan dan harapan. Juga karena Anda melakukan olah bathin sesuai dengan keinginan Anda. Sesuai dengan apa yang Anda anggap paling baik. Dengan demikian Anda terlalu sombong. Anda melupakan Sang Hyang Widhi. Sebenarnya hanya Ia yang tahu apa yang terbaik bagi Anda.
Hanya sedikit orang sakti yang bisa meningkatkan ke arah kesucian. Di antara seribu orang sakti belum tentu satu yang berhasil menjadi orang suci. Hanya  orang sakti yang selalu berjalan di jalan kebenaran, yang rendah hati, yang ucapannya lemah lembut, yang sabar dan bijaksana, yang memakai kesaktiannya untuk menolong  lain dan untuk kebaikan orang banyak, hanya dialah yang bisa mencapai kesucian. Kesaktian adalah api. Nyala api terasa panas dan arahnya selalu ke atas. Karena itulah orang sakti hatinya cepat panas, selalu merasa paling hebat, cepat tersinggung dan sifat-sifat sejenis itu. Itu semua bukanlah sifat asli dirinya. Tapi sifat ilmu kesaktian yang dimilikinya. Karena itulah orang sakti sulit masuk ke arah jalan kesucian, jalan yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang memiliki sifat rendah hati, sabar, penuh kasih sayang dan bijaksana.
Aturan ketiga adalah : Pada saat Samadhi pasrahkan diri pada Sang Hyang Widhi. Biarlah Ia yang merekonstruksikan spiritual Anda. Biarlah Ia yang mengatur prana dalam diri Anda. Mau dijadikan apa tubuh rohani Anda, serahkanlah kepada-Nya. Dengan demikian Ia akan mentransformasi spiritual Anda ke arah yang baik dan benar. Dengan cara ini Anda telah memilih jalan yang benar untuk bisa mencapai Yang Maha Mutlak. *** bersambung  

Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran, "Malinggih Berkat Wangsit Niskala"


Sejak masih usia muda, Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran memiliki hobi sekaligus kebiasaan tangkil ke sejumlah pura, baik di Bali maupun di luar Bali. Kebiasaan itu dilakoni dengan penuh ketulusan. Rupanya tanpa disadari, kebiasaan itu sudah merupakan tuntunan sekaligus sebuah proses mengantarkan Ida Pedanda menapak kesulinggihan. Manusia hanya bisa sebatas berusaha dan berdoa, Tuhan-lah yang akhirnya menentukan semua hasilnya. Bagaimana lika-liku kehidupan Peranda selama walaka hingga madiksa? Berikut liputannya.


Reporter & Foto : Andiawan



Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran yang saat walaka maparab Ida Bagus Nuratmaja ini adalah sosok Pedanda bersahaja yang senantiasa berusaha semaksimal mungkin menjalani hidup di atas rel kebenaran. Ida Pedanda sadar, bahwa tujuan manusia terlahir ke dunia ini adalah untuk memperbaiki karma kurang baik masa lalu dan sekaligus menabung karma baik sebanyak-banyaknya, sehingga diharapkan pada kelahiran yang akan datang bisa lebih baik dari keadaan sekarang.
Untuk itu, manusia dituntut untuk senantiasa berbuat baik. Berpedoman dan mengaplikasikan konsep Tri Kaya Parisuda dan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari, guna mencapai sebuah keseimbangan lahir dan bhatin.
Lebih lanjut Ida Pedanda yang dikenal ramah ini menjelaskan, bahwasannya tak pernah terbesit di benaknya akan menjadi seperti sekarang ini.  Frofesinya diawali menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa (guru-red) dan pertama bertugas di sebuah sekolah di Jembrana. Selama menjadi guru, karirnya menanjak hingga dipercaya menjadi Kepala Sekolah. Setelah beberapa tahun bertugas di Jembrana, Ida Pedanda pindah tugas di Denpasar.
Ida Pedanda Ngurah Kaleran yang dikenal seorang ‘Kutu buku ini’, kemudian sambil mengajar waktunya dimanfaatkan untuk menempa diri melanjutkan pendidikan di bangku kuliah.  Ida Pedanda menjatuhkan pilihannya di Fakutas Sastra jurusan bahasa Inggris. Namun sayang karena sesuatu dan lain hal, akhirnya Ida Pedanda tidak bisa mewujudkan keinginan/cita-citanya kuliah  hingga tamat.
Mengingat saat itu penghasilan sebagai guru tidak menjanjikan, Ida Pedanda memutuskan membanting setir beralih profesi dan terjun ke dunia pariwisata. Kebetulan kala itu ada pembangunan hotel baru yakni  Grand Bali Beach Hotel di Sanur.
Tak mau ketinggalan dan membuang kesempatan baik itu, Ida Pedanda pun langsung melayangkan lamaran dan akhirnya diterima. Bermodal kejujuran, kerja keras dan tentunya loyalitas yang tinggi, mengantarkan karir Ida Pedanda mengalami peningkatan cukup pesat. Selama bekerja, Ida Pedanda pernah menduduki jabatan penting di antaranya, sebagai Asisten Manager Art and Culture, Asisten to Manager Marketing, serta Asisten Manager Publik Relition.
Hampir setiap hari-hari suci Ida Pedanda tak pernah absent tangkil ke pura. Berangkat sore pulang pagi dan itu dilakoni bertahun-tahun. Itu dilakukan bukan untuk mencari kesaktian, tetapi murni untuk memohon keselamatan dan ketenangan serta kedamaian lahir dan bhatin.
Tak disadari pula, entah dari mana mendapat informasi, banyak umat datang ke Griya untuk nunas tamba, serta keperluan lainnya. Merasa tak memiliki kemampuan di bidang itu, Ida Pedanda  kerap menolak, tetapi mereka tetap bersikukuh minta dibantu. Merasa kasihan, akhirnya Ida Pedanda membantu dengan doa dan air putih. Anehnya mereka sembuh, sejak itulah semakin banyak umat yang datang memohn dibantu, sampai-sampai waktu kerja kerap terganggu.
Proses membantu umat biasanya dilakukan cukup menggunakan air yang telah dimohonkan energi kepada Ida Bhatara sebagai manifestasinya Tuhan. “Terus terang, sebenarnya tiang tidak memiliki keahlian di bidang itu dan menolak untuk menjalankan tugas itu. Namun, karena tiang tidak kuasa menolak titah/perintah beliau, terpaksa tiang lakukan. Karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” tegas Ida Pedanda yang dikenal murah senyum dan pantang menyerah ini.  
Karena sesuatu pertimbangan, akhirnya Ida Pedanda kelahiran tahun 1936 ini, memutuskan mengundurkan diri, dan kemudian mendirikan usaha biro perjalanan (Travel). Sejak itu, sambil mengurus usaha, Ida Pedanda menggunakan hari dan waktunya untuk kegiatan rutin membantu umat dan tangkil ke sejumlah pura baik di Bali, luar Bali hingga ke sejumlah tempat suci yang ada di beberapa wilayah di India.

Saatnya Deposito Karma

Seperti sebelumnya, berangkat sore atau tengah malam, kemudian pagi harinya mapamit dan melaksanakan tugas rutin mengurus usaha, dan nyanggra penangkilan umat dengan tujuan yang berbeda. Guna meningkatkan kemampuan dalam bidang spiritual dan pengetahuan tentang ajaran agama, Ida Pedanda tak pernah menyerah untuk terus belajar, dan belajar. Serta yang paling penting berusaha mengimplementasikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tak hanya sebatas tahu, dan atau bahkan hanya sekadar mampu mewacanakan.
Karena dorongan titah niskala dan kuatnya dukungan umat untuk segera Madwijati/malinggih menjadi seorang sulinggih (pendeta), akhirnya pada tanggal 28 November 1996  Ida Pedanda melaksanakan upacara Padwijatian dan sejak itu resmi secara sekala-niskala menjadi sulinggih. “Di saat sudah malinggih, tiang berusaha mengabdikan sisa hidup ini untuk membantu umat serta membuat deposito karma baik, sebagai bekal dinikmati pada kehidupan yang akan datang,” tegas Ida Pedanda menjelaskan, seraya mengakhiri perbincangannya karena kebetulan beberapa orang penangkilan datang. ***


Parindikan Sulinggih
Nama walaka : Ida Bagus Nuratmaja
Bhiseka                       : Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran
Lahir                            : Tahun 1936
Profesi Walaka            : Guru dan Karyawan Hotel
Nama istri Walaka       : Ni Jero Arsaja
Bhiseka                       : Jero Istri Arsa Kaleran
Anak                           : Lima Putra dan Dua Putri
Pengalaman Kerja       :  Guru & Asisten Manager Hotel
Nama Griya                 : Griya Kaleran, Sanur
Alamat Griya : Jalan Hang Tuah No. 3, Denpasar Selatan
Didiksha                      : Tanggal 28 November Tahun 1996
Nabe                            :Ida Pedanda Nabe Gede Oka Timbul
Griya                           : Griya Timbul, Puseh Intaran, Denpasar Selatan

Ki Gagak Petak (2)


Gagak Petak juga merujuk pada nama masukan khusus/elit yang tidak terkalahkan yang diberi nama pasukan Laskar Taruna Goak. Pasukan elit Goak/gagak adalah pasukan khusus yang dibentuk pada masa Anglurah Pandji Sakti ketika melakukan invasi (1639 M), terhadap Kerajaan Blambangan sehingga kekuasaan Buleleng terbentang luas hingga ke Blambangan.


Pamor wusing wutah lembat dipercaya memiliki tuah untuk mempermudah datangnya rejeki. Pamor ini bukan tergolong pamor  pemilih sehingga dapat dimiliki oleh siapapun.

Hulu
Bentuk : Grantim

Pada awalnya hulu/danganan keris ini berupa danganan togogan dari gading dan dihias dengan selut dan wewer khas Bali dari bahan emas dan dihias batu mulia. Namun karena kondisinya yang sudah berumur maka oleh Pande  Wayan Suteja Neka, keris tersebut dimuliakan dengan danganan grantim dari bahan emas.
Hulu/danganan grantim pada zaman dahulu hanya dikenakan oleh para raja dan bangsawan. Hulu grantim tergolong hulu yang mewah karena dibuat dari anyaman/lilitan benang logam mulia yang amat rumit dan halus. Sebagian besar danganan ini berbahan emas dan sedikit jumlahnya, maka harganya amat mahal dan saat ini grantim kuno juga mulai jarang dijumpai.
Danganan ini dilengkapi selut/wewer khas Bali yang dibuat dari emas yang dikombinasi dengan batu mulia (batu mirah).

Waragka
Bentuk : Kojongan 

Warangka Kojongan pada zaman dahulu hanya dikenakan oleh kalangan muda namun sekarang ini popoler dipakai oleh segala kalangan.
Warangka kojongan Keris Ki Gagak Petak dibuat dari kayu bentawas dan dihias dengan plisir/antup kayu pellet dengan motif mbatok baris jajar. Kondisi warangka tersebut kini mulai rapuh dan untuk mempertahankan keasliannya, Pande Wayan Suteja Neka memuliakan warangka tersebut, membungkusnya dengan pendok dari emas dan perak, dengan tujuan memperindah dan memperkuat warangka-nya. Untuk mempertahankan  keindahan pellet  pada plisir/antup warangka tersebut maka pendok yang diterapkan berupa pendok krawang tengah khas Bali.
Warangka dibuat dari bahan emas dan perak dengan komposisi silih asih yaitu komposisi warna kuning dan putih dari bahan emas dan perak. Komposisi tersebut dikombinasi   dengan batu mulia sehingga semakin menambah keindahannya. Pahatan silih asih merupakan simbolisasi ketentraman, ketenangan dan kehormonisan kepemimpinan (raja) dan kekeluargaan (rumah tangga). Pendok dihias dengan pahatan motif sekar-sekaran sebagai symbol keselarasan dan keharmonisan. Dalam proses pembetukan motifnya menerapkan teknik pahat wudulan sehingga tampak timbul pahatan reliefnya. Pengertian pendok dipercayakan kepada Made Pada, seorang ahli pembuat pendok yang mumpuni dari Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 14.  Terima kasih.

Teknik Ajapa Gayatri


Menurut ajaran Samadhi Ajapa Gayatri, genitri atau japa mala yang dipakai pada saat Samadhi hanya berfungsi  sebagai alat bantu menghitung agar mantra yang diucapkan tepat sebanyak bilangan alam semesta yaitu 108 kali. Jadi,  peganglah genitri secara wajar.  Tidak perlu disembunyikan di balik lipatan baju atau kain agar tidak terlihat orang lain.



Dalam Ajapa Gayatri yang diproses adalah tubuh spiritual pelaku Samadhi. Bukan genitri yang dipakai. Tujuannya agar terjadi transpormasi kesadaran. Dari kesadaran manusia menjadi kesadaran dewa. Dari spiritual profan menjadi spiritual suci. Kalaupun genitri yang dipakai selama Samadhi berubah menjadi benda keramat, syukuri saja. Tapi selalu ingat, itu bukan tujuan. Bukan itu yang utama. Itu hanyalah sekadar dampak positif dari Samadhi yang dilakukan selama bertahun-tahun.
Kita kembali kepada teori Ajapa Gayatri. Setelah mahir melakukan pernafasan perut dengan ketentuan menarik nafas dua ketukan (detik) dan mengeluarkan nafas delapan ketukan (detik), lalu dilanjutkan dengan latihan mengucapkan mantra.
Mantra yang dipakai untuk japa adalah mantra Gayatri. Caranya sebagai berikut :
* Pada saat menarik nafas, tidak mengucapkan mantra.
* Pada saat mengeluarkan nafas ucapkan sebagian dari mantra Gayatri, yaitu baris pertama dan baris kedua saja.
Om, …… bhur ……. Bhuah, ……. Swah
Tatsa, ….. witur ….. ware ….. niyam.

Setiap kata diucapkan selama satu ketukan (detik).
Om, ----- diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Bhur …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)    
Bhuah …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Swah …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Tatsa  …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Witur  …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Ware  …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Niyam  …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)

  • Selanjutnya tarik nafas melalui hidung selama dua ketukan (detik). perut menjadi kembung (maju ke depan).
  • Kemudian mengucapkan sisa mantra gayatri yaitu baris ketiga dan keempat mantra diucapkan sambil mengeluarkan nafas melalui hidung.

Bargo  …. Dewa …. …sya di …. Mahi,
Dhiyo, ….. yo nah……. Praco …. Dayat.

Bargo …diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Dewa …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Sya di …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Mahi …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Dhiyo …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Yonah …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Praco …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)
Dayat …… diucapkan selama 1 ketukan (detik)

Jadi baris ketiga dan keempat diucapkan selama 8 ketukan (detik). Sampai di sini nafas di dalam perut sudah keluar semua dan perut menjadi kempes.

-          Kemudian tarik nafas lagi selama 2 ketukan (detik) dan perut terasa penuh berisi nafas.
-          Keluarkan nafas pelan-pelan selama 8 ketukan (detik) sambil mengucapkan mantra gayatri bait pertama dan kedua. Sampai di sini nafas di perut terasa habis dan perut menjadi kempes.
-          Kemudian tarik nafas lagi selama 2 ketukan (detik) sampai perut terasa penuh oleh nafas.
-          Selanjutnya keluarkan nafas pelan-pelan selama 8 detik sambil mengucapkan mantra gayatri bait ketiga dan keempat. Sampai di sini nafas di perut terasa habis dan perut menjadi kempes.
-          Lakukan seperti di atas berulang-ulang sampai jumlah mantra gayatri lengkap diucapkan sebanyak 108 kali.

Perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
-          Menarik nafas  dilakukan melalui hidung dengan agak cepat agar dalam waktu 2 ketukan (detik) perut sudah terasa penuh oleh nafas.
-          Nafas dikeluarkan pelan-pelan melalui hidung. Biarlah nafas keluar secara perlahan-lahan, lembut, seperti air mengalir, seperti hembusan angin sepoi : menyejukkan, membuat perasaan menjadi damai.
-          Waktu mengeluarkan nafas, jangan dilakukan penekanan. Ini tidak akan mendatangkan kesucian.
-          Nafas dikeluarkan pelan-pelan sambil mengucapkan mantra. Suara mantra tidak perlu keras, cukup terdengar oleh telinga sendiri. Suara mantra agar pelan dan lembut sesuai dengan nafas yang pelan dan mengalir. Irama mantra dibuat datar. Jangan dinyanyikan atau dilagukan dengan suara naik-turun seperti umumnya orang melantunkan mantra gayatri. Irama indah dengan nada naik turun menghubungkan kesadaran pelaku Samadhi dengan Saguna Brahman,  Tuhan Yang Memiliki Sifat. Sedangkan mantra gayatri yang diucapkan dengan nada datar penuh kedalaman akan membawa kesadaran pelaku Samadhi sampai pada Nirguna Brahman. Tuhan Tanpa Sifat. Paramasiwa Tattwa. 

Pura Padharman Sukangeneb Sirearya Gajah Para, Tejakula, Buleleng, "Swamba sebagai Dasar Palinggih Gedong"

Meski dengan kondisi ekonomi pas-pasan, pretisentana yang awalnya berjumlah 5 dadia ini pantang menyerah, dengan modal tekad, kemurnian, ketulusan, dan semangat serta keyakinan yang tinggi berusaha sekuat tenaga dan dengan kemampuan yang ada mewujudkan Pura Pedarman ini yang kini memiliki pangempon tetap berjumlah 13 dadia tersebar di seluruh Bali.

Rporter & Foto : Andiawan



Begitu menginjakkan kaki di Jeroan Pura, tampak sejumlah palinggih dan bangunan pendukung lain tertata rapi. Di Jeroan Pura, pamedek dapat melihat sejumlah palinggih hasil karya tangan-tangan terampil dan berjiwa seni tinggi, ditambah sarana yang digunakan, hasil dari penggabungan batu merah alami dengan batu sungai dengan ukuran yang telah disesuaikan, sehingga mampu menghasilkan karya seni bernilai tinggi serta terlihat indah, sakral, dan menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara, di salah satu pojok tampak ruang kosong yang belum tertata, akibat minimnya dana yang dimiliki. Sehingga, pembangunan atau penataan Pura Pedarman dengan luas kurang lebih 15 are ini, tidak bisa dilakukan sekaligus, melainkan bertahap.
Panglisir Pura, I Wayan Lasem mengaku akan berusaha menata pura ini, sehingga kelihatan semakin rapi dan anggun dipandang, serta pamedek betah berada di pura. Pun, kata pria ramah ini, para pretisentana beliau dapat lebih khusuk ngaturang sembah bakti ke hadapan beliau.
Sementara, Jro Mangku Gede Parwata berusaha menjelaskan keberadaan palinggih di Pedarman ini. Dimulai dari Utama Mandala, terdiri dari: Meru Tumpang Sia (Sembilan), Pajenengan, Palinggih Tri Sakti (Kamulan), Palinggih Panca Rsi, Palinggih Anta Boga, Palinggih Ratu Hyang Lurah Sakti, Gedong Catu, Lima Sari,  Palinggih Sakeluang, Pasimpangan Pura Pulaki, Taksu, Bale Pelik/Bale Pasamuan, Bale Pawedan, Pohon Bunga Kembang Sepatu penuh misteri.
Sedangkan di Madya Mandala terdiri dari : Bale kulkul, Bale Pasandekan, Bale Gong dan  dua Palinggih Pengapit Lawang. Di Nista Mandala terdiri dari dua Palinggih Pangapit Lawang, Palinggih Pangayatan Ratu Gede Dasar, dan sebuah bangunan berupa Pewaregan/dapur.
Lebih jauh Wayan Lasem menjelaskan, tentang alasan kenapa pura ini berada di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula. Karena, pada zaman dahulu Desa Tembok adalah bagian dari wilayah Toya Anyar. Bahkan, konon kekuasaan beliau sampai di wilayah Pura Ponjok Batu, Buleleng, sekarang ini.
Setelah dilakukan penataan tata ruang wilayah oleh pemerintah, akhirnya Desa Tembok masuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dengan demikian, secara otomatis Pura Pedarman ini berada di wilayah Kabupaten Buleleng, dan terpisah dengan Toya Anyar yang kemudian lama kelamaan berubah nama menjadi Tianyar hingga saat ini.
Meski demikian, keberadaan pura tidak mungkin dipindahkan, mengingat sesuai dengan babad yang ada, bahwa bukti sejarah riil/nyata yang menguatkan keyakinan akan kebenaran keberadaan Pura Pedarman ini adalah diapit dua tukad (sungai-red) yakni Tukad Gelar dan Tukad Luwah.
“Apabila lokasi pura ini dipindah, sudah tentu tidak sesuai dengan babad yang ada serta tidak ada bukti sejarah yang menguatkan keberadaan pura ini. Karenanya, pura ini tetap berada di wilayah Kabupaten Buleleng,” jelas Nyoman Lasem menegaskan.  
Lebih jauh suami Ni Luh Catra ini berusaha menceritakan sejarah singkat awal berdirinya Pura Padarman ini. Diceritakan,  Sirearya Gajah Para datang ke Bali pada tahun 1270 menuju Toya Anyar menjalankan titah (diperintah) sekaligus tugas dari Maha Patih Gajah Mada, langsung menghadap raja Dalem Klungkung yang diikuti tiga orang Wisia, di antaranya Tan Kaur, Tan Mundur, dan Tan Kobar.
Oleh raja Dalem Klungkung Arya Gajah Para diberi tugas untuk menaklukkan Bali Aga dengan batas wilayah kerja, di sebelah utara adalah Desa Got, di timur Desa Basang Alas/Garbawana, di barat Ponjok Sela beristana di Toya Anyar dan beliau dikaruniai empat orang putra yakni I Gusti Ayu Raras, I Gusti Ngurah Sukangeneb, I Gusti Ngurah Toya Anyar/Abhiseka Sirearya Gajah Para II, serta I Gusti Ayu Tirta.
Kemudian, lanjut Pria kelahiran tahun 1934 ini, Sirearya Gajah Para II berputra tiga orang di antaranya; I Gusti Ngurah Toya Anyar/Abhiseka Sirearya Gajah Para III, I Gusti Nengah Kaler, dan I Gusti Ayu Toya Anyar, karabi (dipersunting-red) oleh Pedanda Sakti Manuaba.

Darah Memerah di Tukad Luwah

Berselang beberapa tahun kemudian, Sirearya Gajah Para pun wafat. Namun, sebelum wafat beliau berpesan kepada cucunya yang bernama I Gusti Ngurah Kaler. Isi pesan itu adalah “Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti aku  meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di pucak Gunung Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari),  dihias dengan bunga-bunga, dan diiringi dengan tabuh serta tari-tarian, karena ibuku dulu adalah seorang bidadari”.  Demikian pesan beliau Arya Gajah Para terhadap cucunya I Gusti Ngurah Kaleran.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih.

Ki Segara Jagadhita


Keris dhapur Sinom dipercaya sebagai keris pusaka yang memberikan tuah/symbol/filosofis kehidupan yang tenang, tentram, bahagia dan menyenangkan. Keris ini tergolong bilah keris yang bukan pemilih atau dapat dimiliki oleh golongan tua maupun muda.


Keris ini adalah pusaka dari Puri Gede Buleleng, yang dibuat oleh Ida Pedanda Ngurah Sakti Lalandep dari Desa Banjar, Buleleng.

Bilah
Dhapur Sinom Robyog

Sinom dalam Jawa berarti “pucuk daun asam Jawa” (Tamarindus): sinom juga dapat berarti “rambut halus yang tumbuh di dahi”, sinom juga dapat berarti pula “jenis tembang Bali/Jawa dalam kelompok sekar macapat”.

Keris sinom memiliki kelengkapan rarincikan: sekar kacang/cunguh gajah, lambe gajah/cedar, jalen/tapi, sogokan, srawean, ada-ada/kalor,  ri pandan/kekujung, pijetan/tigasan. Apabila rarincikan tersebut ditambahkan jenggot/bimakroda/janggar pada sekar kacang dan greneng bersusun maka dhapur keris sinom tersebut menjadi dhapur Sinom Robyog.
Keris dhapur Sinom dipercaya sebagai keris pusaka yang memberikan tuah/symbol/filosofis kehidupan yang tenang, tentram, bahagia dan menyenangkan. Keris ini tergolong bilah keris yang bukan pemilih atau dapat dimiliki oleh golongan tua maupun muda. Menurut mitos yang beredar, keris sinom pertama kali dibuat oleh Mpu Windudibyo pada tahun 1119 Saka (1197 M), pada masa Nata Prabu Lembuamiluhur.
  

Pamor : Rekan motif Sisik Penyu.

Pamor sisik penyu merupakan pamor yang tergolong pamor rekan. Secara teknik pamor ini dibuat dalam jumlah lipatan yang tidak terlalu banyak, kemudian pada lapisan saton dilakukan teknik puntiran satu arah untuk menghasilkan pola pamor sisik penyu. Untuk menghasilkan pola pamor sisik penyu yang agal/jarang dilakukan puntiran yang polanya agak jarang, serta saton pamor dalam jumlah lipatan yang sedikit. Pamor ini dipercaya memiliki tuah untuk keselamatan, panjang umur, dan untuk kesinambungan kepemimpinan yang baik.


Hulu
Bentuk Dewa Ganesa

Dalam masyarakat Bali dan masyarakat Nusantara pada umumnya Dewa Ganesa adalah symbol dewa kecerdasan. Bentuk Dewa Ganesa ini dibuat dengan pahatan yang sangat rumit namun rapi, tegas dan tampak hidup. Hulu atau danganan ini dibuat dari gading gajah. Warna danganan yang coklat, merah kekuningan selain disebabkan usia, juga menunjukan bahwa gading gajah tersebut diasapi. Hulu dilengkapi mendak atau wewer gaya Bali dari bahan emas dan batu mulia.
  

Warangka
Bentuk : kekandikan.

Warangka bentuk kandik atau kekandikan juga popular disebut dengan istilah sesumpingan karena bentuknya yang menyerupai makan sumping (nagasari) yang dibungkus dengan daun pisang. Konon warangka ini hanya diperuntukan bagi seorang raja dan para bangsawan  kerajaan. Namun kini popular dikenakan oleh hampir seluruh kalangan masyarakat Bali dan Lombok. 
Warangka dibuat dari bahan gading gajah. Dilengkapi dengan pendok  bunton  khas Bali berbahan emas dan dihias dengan pahatan motif sulur-suluran. Pada bagian tengah dihias plisiran/antup dengan bahan perak, dihias motif bersulur. Melihat material, teknik dan warnanya, hulu, warangka dan pendok dibuat sezaman dengan pembuatan bilah kerisnya.  ***          

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More