Ida Pandita Mpu Natha Jaya Kusuma

Setiap insan Hyang Widhi yang diberikan kesempatan untuk memperbaiki karma-karmanya, diberikan garis kehidupan sesuai karmanya juga. Sementara itu, sulinggih yang satu ini, juga diberikan perjalanan hidup yang berkelok-kelok bagaikan aliran sungai menuju samudera. Lebih-lebih hidup dalam keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang boleh dikatakan serba kekurangan..

Candi Penataran di Desa Panataran, Nglegok, Blitar, Jatim, "Jejak Peninggalan Hindu Majapahit"

Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang mulai dibangun dari kerajaan Kediri dan dipergunakan sampai dengan kerajaan Majapahit. Candi Penataran terdiri atas beberapa gugusan, sehingga lebih tepat kalau disebut kompleks percandian yang melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur..

Keris Bali Bersejarah, "Ki Tunjung Tutur

Menurut kepercayaan masyarakat di Jawa, keris dapur marak dipercaya memiliki tuah untuk mendukung loyalitas dan kesetiaan terhadap pemimpin, menambah wibawa dan karisma pemiliknya. Keris ini cocok dan sesuai dipergunakan oleh para pegawai atau pamong praja. .

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur, Baturiti, Tabanan, "Genah Metapa, Mohon Jabatan""

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur merupakan kawasan tapa wana, dilestarikan sehingga tidak ada bangunan lain di lokasi ini kecuali terkait dengan pemujaan. Lokasi pura ini dulunya dikenal dengan tempat pertapaan Resi Segening. Seringkali orang datang memohon jabatan ataupun taksu sebagai pemimpin..

Parade Gong Kebyar Wanita Bius Penonton

Parade gong kebyar wanita antara duta Kabupaten Badung dan duta Kabupaten Tabanan pada (23/06) lalu di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 mendapat sambutan meriah, karena penampilannya menjadi primadona aktivitas seni tahunan ini. Duta Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Dharma Kanti Desa Adat Sobangan, Kabupaten Badung dan Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Desa Adat Tunjuk, Kabupaten Tabanan. Seperti apa meriahnya parade gong kebyar ini, berikut liputannya..

Tampilkan postingan dengan label Pura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2011

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur, Baturiti, Tabanan, "Genah Metapa, Mohon Jabatan"

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur merupakan kawasan tapa wana, dilestarikan sehingga tidak ada bangunan lain di lokasi ini kecuali terkait dengan pemujaan. Lokasi pura ini dulunya dikenal dengan tempat pertapaan Resi Segening. Seringkali orang datang memohon jabatan ataupun taksu sebagai pemimpin.

Reporter & Foto : Ida Ayu Made Sadnyari

Seorang spiritual yang betul-betul mendambakan suasana sunyi dan damai, Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur bisa menjadi salah satu tempat pilihan untuk melaksanakan tapa yoga semedhi.
Keunikan dari pura ini adalah keberadaan Juuk Linglang (sejenis jeruk). Jeruk ini konon sudah tumbuh ratusan tahun dan diyakini memiliki khasiat tertentu yang ajaib, jarang sekali orang yang bisa mendapatkan buahnya.


Jika memerlukan bantuan Jro Mangku, bisa dihubungi, rumahnya tidak jauh dari kawasan pura. Sudah ada petunjuk jalannya atau bisa tanya langsung ke penduduk setempat. Bagi umat yang belum pernah nangkil  ke pura ini, perlu berhati-hati dengan barang bawaan. Tetap awasi dan jangan ditinggalkan begitu saja karena di hutan ini masih banyak kera yang sering iseng mengambil barang bawaan pengunjung. Jika tidak hendak makemit, sebaiknya datang pada pagi hari sebab dikhawatirkan akan turun kabut yang menggangu.
Bukit Pucak Sangkur sangat tepat dibangun Pura Resi sebagai pertapaan orang suci sebagai bhagawanta-nya negara. Karena dalam areal yang hening ini para Brahmana dengan sisya kerohaniannya dapat melakukan tapa brata-nya. Melakukan tapa brata merupakan swadharma utama dari para resi. Dengan tapa brata itulah seorang resi akan mendapatkan inspirasi suci menyangkut kehidupan umat manusia di bumi ini.
 Lewat keheningan dalam tapa brata di areal Tapa Wana itulah berbagai tuntunan hidup kepada para Ksatria, Waisya maupun Sudra. Agar inspirasi suci terus dapat mengalir melahirkan berbagai kebijakan untuk mengatur kehidupan di dunia ini, hendaknya hutan yang tergolong Tapa Wana ini jangan sampai dialihfungsikan untuk kepentingan lain. Karena lewat suasana hening di Tapa Wana akan dilahirkan pemikiran-pemikiran yang arif bijaksana untuk menuntun kehidupan bersama di bumi ini.


Moksahnya Ida Rsi Sagening

Pura Pucak Bukit Sangkur ini ada kaitannya dengan berbagai Pura Kahyangan Jagat di Bali. Dalam Lontar Tantu Pagelaran diceritakan secara mitologis  Gunung Maha Meru di India, puncaknya menjulang sangat tinggi hampir menyentuh langit. Kalau langit sampai tersentuh oleh puncak Gunung Maha Meru itu maka alam ini pun akan hancur lebur. Saat itu Jawa dan Bali dalam keadaan guncang atau disebut enggang enggung.
Hyang Pasupati memotong puncak Maha Meru tersebut terus dibawa ke Jawa. Pecahan puncak tersebut ditaburkan dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Pecahan Maha Meru itulah yang menjadi gunung-gunung yang berderet dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Di Jawa Timur puncak Maha Meru itulah menjadi Gunung Semeru. Setelah itu Pulau Jawa menjadi tenang. Tetapi Bali masih enggang-enggung atau guncang. Karena itu, Hyang Pasupati terbang ke Bali membawa puncak Gunung Maha Meru tersebut.
Puncaknya sekali menjadi Gunung Agung, bagian tengahnya menjadi Gunung Batur dan dasarnya menjadi Gunung Rinjani di Lombok. Serpihan-serpihannya menjadi gunung-gunung kecil dan bukit-bukit yang mengelilingi Pulau Bali. Setelah itu Bali menjadi tenang. Gunung-gunung kecil itu antara lain menjadi puncak Mangu, Teratai Bang, Gunung Tampud, Lempuhyang, termasuk Bukit Pucak Sangkur tempat didirikannya Pura Pucak Resi itu.
Dalam Lontar Purana Pura Pucak Resi diceritakan di zaman dahulu ada seorang suci bernama Ida Sang Resi Madura berasal dari Gunung Raung, Jawa Timur. Beliau Sang Resi juga disebut sebagai Acarya Kering. Ida Sang Resi Madura ini sering mengadakan perjalanan bolak-balik Jawa-Bali. Suatu hari dalam Yoga Semadinya Sang Resi mendapatkan suara niskala yang menugaskan Sang Resi agar menuju Danau Beratan. Sang Resi pun mengikuti suara gaib tersebut. Sang Resi diiringi oleh pembantunya bernama I Patiga. Sampai di Bali, Sang Resi menuju puncak bukit.
Di puncak bukit itulah Ida Sang Resi Madura membangun pura dengan nama Parhyangan Pucak Resi sebagai pemujaan Batara Hyang Siwa Pasupati. Setelah itu Sang Resi Madura ini mengadakan perjalanan menuju ke puncak Teratai Bang, Bukit Watusesa sampai ke Bukit Asah.
Diceritakan I Ratu Ayu Mas Maketel di Nusa Penida saat mengadakan upacara Ngeraja Sewala mendatangkan seorang pandita dari Maja Langu untuk memimpin upacara tersebut. Pandita ini bernama Ida Resi Sagening ke daratan Bali dan bermukim di Munduk Guling Klungkung. Di tempat ini beliau banyak punya pengikut. Sang Resi kena fitnah dan dikatakan akan merebut kekuasaan raja di Linggarsapura. Sang Resi pun mau dihukum mati.
Untuk menghindari hukuman itu, Ida Resi Sagening pindah ke Bukit Asah diiringi oleh sisya-sisya (murid-murid-red)-nya. Di Bukit Asah inilah beliau membangun pasraman. Atas petunjuk niskala yang diterima oleh Ida Ratu Ngurah Wayan Sakti agar Pura Puncak Asah di-pralina. Karena demikian halnya Ida Resi Sagening mohon dibuatkan Siwapakarana dan disimpan di Pasraman Taman Sari. Di pura inilah juga Ida Resi Sagening mencapai moksha.
Upacara Pujawali di Pura Luhur Pucak Sangkur ini pada hari Budha Kliwon Sinta yaitu Rerainan Pagerwesi. Pada hari raya ini dipuja Batara Siwa sebagai Sang Hyang Paramesti Guru yaitu memuja Tuhan sebagai Maha Guru alam semesta. Jadinya sesuai dengan yang di Pura Pucak Sangkur yaitu Tuhan sebagai Hyang Siwa Pasupati.
Di sini ada bentang persekutuan gugusan kelompok Gunung Sanghyang-Gunung Lesong-Gunung Pucuk serta gugusan kelompok Gunung Adeng-Gunung Pohen - Gunung Tapak yang berada di sisi selatan Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Lalu ada lagi persekutuan gugusan kelompok Gunung (Pucak) Bon-Gunung (Pucak) Mangu/Pangelengan - Gunung (Pucak) Sangkur berada di sebelah barat Danau Buyan.
Pucak Mangu sendiri memiliki pasanakan (berkerabat) dengan Pucak Sangkur dan Terate Bang. Uniknya, masing-masing gugusan kelompok gunung itu memiliki satu palinggih pangayatan (semacam perwakilan) di Pura Pucak Mangu di ujung ketinggian puncak Gunung Mangu.
Hal yang unik dan menarik dari kawasan ini adalah keberadaan juuk linglang (sejenis jeruk) yang terletak di utama mandala. Jeruk yang konon keberadaannya telah ratusan tahun ini memiliki cerita tersendiri. Untuk saat ini juuk linglang hanya menjadi legenda yang sering diceritakan dalam drama gong. Namun, legenda itu dianggap nyata oleh masyarakat setempat.
Sebelum dilakukan rehab pura sekitar tahun 2004-2005 lalu, jeruk dengan ukuran batang besar ini berada peResis di tebing pada bagian samping lokasi pura yang saat itu masih sempit. Namun, ketika dilakukan penimbunan timbul pawisik agar jeruk ini tidak dimatikan. Akhirnya dibuatkan lubang yang bertrali agar jeruk ini dapat terus tumbuh. Uniknya batang kecil yang muncul sering hilang dan timbul kembali pada waktu tertentu.
Masyarakat sangat meyakini juuk linglang memiliki khasiat tertentu yang sifatnya ajaib. Dari buah, daun hingga kulit batang diyakini ampuh menyembuhkan berbagai penyakit, baik medis maupun nonmedis. Penanganan penyakit nonmedis paling banyak. Namun buah dari jeruk ini sukar untuk didapatkan dan konon tidak semua orang bisa mendapatkan sebagaimana halnya memetik buah jeruk biasa. Diyakini orang yang bisa memiliki buah jeruk ini merupakan orang pilihan.
Para pemedek biasanya merasa sangat beruntung ketika melihat batang kecil dengan beberapa helai daun menyembul ke permukaan. Sebab, tidak semua pemedek beruntung melihat keberadaannya yang sering hilang tersebut. Masyarakat setempat yang sering mengamati keberadaannya pada mulanya merasa heran ketika jeruk itu hilang.
Saat tertentu jeruk ini menghilang dan dalam waktu yang sulit diketahui muncul kembali dengan posisi dan kondisi yang sama ketika menghilang.






 Jro Mangku Istri Pura Pucak Bukit Sangkur 


Pangider Penataran Beratan
Penataan bangunan pura sudah terlihat bagus. Dari wantilan, berjalan menaiki tangga yang cukup panjang barulah memasuki jaba tengah pura. Dari sini terlihat pohon besar dalam (di jeroan) pura, tak lain adalah pohon bunut dengan bentuk unik, seolah-olah menyerupai goa pada bagian batangnya.
Sesekali terlihat sekelompok kecil kera bergelantungan di diantara ranting pohon yang kokoh. Di bawah pohon ini terdapat pelinggih merupakan pelinggih pertama yang ditemukan di pura ini. Sementara pada palinggih utama di areal pura ini terdapat patung Siwa Pasupati dengan menggunakan busana kuning.
Pembangunan dan rehab telah dilakukan beberapa kali oleh pengempon pura yakni Desa Pakraman Kembang Merta dan Antapan. Di bagian lain juga terdapat pelinggih pengabeh yakni Pelinggih Ratu Bagus Sakti dan Dalem Penerangan. Selain bangunan palinggih, juga terdapat bangunan lain yakni berupa bale gong. Termasuk sarana MCK yang sangat diperlukan juga sudah tersedia.
Pura ini termasuk ke dalam 10 pengider bagi Pura Penataran Beratan yang terletak di tepi Danau Beratan. Sembilan pura lainnya yang masih ada hubungan adalah Pura Pucak Mangu, Pura Manik Umawang (Ulun Danu), Pura Rejeng Besi, Pura Pucak Candi Mas, Pura Teratai Bang, Pura Batu Meringgit, Pura Pucak Pungangan, Pura Pucak Sari dan Pura Kayu Sugih.
Bagi umat yang telah pernah nangkil akan tetap merasakan heningnya suasana pura sehingga tergugah untuk datang kembali. Sangat cocok sebagai tempat mencari ketangan dalam proses pendalaman spiritual. Tidak hanya masyarakat umum yang nangkil ke seni. Seringkali lembaga-lembaga atau sekolah-sekolah memilih mendaki ke Pura Pucak Bukit Sangkur untuk mendapatkan manfaat pencerahan pikiran. Apalagi sehari-hari tinggal di kota yang sangat padat dan bising. Sekali memasuki pura ini akan mendapatkan suasana jauh berbeda dan selalu tertanam dalam ingatan. Jangan lupa memohon air suci yang ada di pura ini untuk pembersihan diri. 

Minggu, 21 Agustus 2011

Runtuhnya Kerajaan Bali Kuno


Tidak lama kemudian, murid-murid beliau Sang Mahayogi membangun beberapa palinggih utama yakni : Meru Tumpang Tiga (pajenengan mageng) diperuntukan sebagai sthana  Bhatara Sakti Sasuhunan di Gunung Raung. Dibangun juga Bale Kulkul (Pajenengan Kulkul) yang dibuat dari kayu “tangkai bunga seleguwi”.

Reporter & Foto : Putu Patra


Pajenengan Kulkul (kentongan) tersebut dibunyikan saat Ida Bhatara dimohon untuk turun dari kahyangan bila akan melaksanakan upacara melasti. Juga dibangun Bale Agung yang berhulu (mahulu) di selatan, mempunyai 11 ruangan dan bertiang 24. Bale Agung itu disebutkan dibawa dari Jawa (Gunung Raung), kemudian dibangun kembali yang di hulu/di bagian sebelah selatan linggih Ida Bhatara Sasuhunan sane malinggih di Bale Agung dan di bagian arah utara/tebenan berfungsi untuk tempat rapat (pasamuan) penduduk desa (karama desa) sejak dahulu. Dan tempat itu juga dipakai untuk membagi-bagi cacaran paolih-olih karama desa setelah selesai  menghaturkan upacara Dewa Yadnya.
Diceritakan sekarang, pada masa pemerintahan Sri Haji Kesari Warmadewa yang didukung oleh rakyat Singhamandawa dan para brahmana, rsi dan para bhiksu merencanakan membangun kembali pura-pura yang ada di wilayah kerajaannya, terutama yang sudah rusak disertai dengan upacara Dewa Yadnya  sepeti dahulu. Itulah yang menyebabkan subur makmur kerajaan sewilayah kerajaan Bali. Dan ada titah Baginda Raja kepada rakyat semua, agar seluruh orang yang berada di kerajaan Bali selalu ingat menghaturkan bhakti di pura-pura yang telah dibangun oleh leluhur dahulu. Kalau tidak ingat akan terkena bencana dan selalu bertengkar dengan kerabatnya. Entah berapa lama Baginda raja memerintah akhirnya beliau kembali ke Sorgaloka (meninggal dunia).
Lama kelamaan setelah silih berganti menduduki tahta kerajaan Bali Kuno, sekarang ada salah satu keturunan baginda raja terdahulu yang bertahta di Kerajaan Balidwipa. Beliau bergelar Sri Dharma Udayana Warmadewa. Beliau memerintah sekitar tahun 911 Saka (989 Masehi). Pada masa pemerintahan baginda raja konon sejahtera, subur dan makmurlah kerajaan, karena beliau didukung oleh rakyat yang sangat setia, dan beliau mengangkat  sejumlah senapati yang terhimpun dalam suatu lembaga pemerintahan yang disebut Pakira-kiran I jro makabehan. Bertambah-tambah kewibawaan beliau, karena Dharmapatni sangat paham terhadap berbagai pengetahuan  dan ilmu pemerintah. Pada saat itu baginda raja lagi menitahkan untuk melengkapi sejumlah pura yang telah dibangun oleh leluhurnya dahulu antara lain : Hyang  (pura)  Bukit Tunggal, Hyang (pura) Bangkiang Sidhi, dan Hyang (pura) yang ada di Padang (bangunan suci yang ada di Padangbai : Pura Silayukti). Kemudian beliau membangun lagi kahyangan-kahyangan di beberapa desa (banuwa/thani) seperti Hyang Api, Hyang Tanda dan Hyang Karimana, juga membangun pasraman para mpungku (mpu) yang mempunyai kewajiban memelihara suatu bangunan suci. Banyak lagi pura/parahyangan yang dibangun oleh keturunan beliau kemudian. Demikianlah yang tertulis dalam prasasti.
Tidak diceritakan setelah lama berganti-gantian tahta di kerajaan Balidwipa, kemudian ada salah seorang keturunan baginda raja yang mengendalikan kerajaan Balidwipa beliau bergelar Sri Gajah Wahana, Sri Tapolung atau disebut juga Sri Silahireng. Setelah dinobatkan menjadi raja beliau bergelar Sri Asyasura Ratna Bhumi Banten. Pada masa pemerintahan beliau, memang banyak bala tentara yang setia, juga didukung oleh para senapati, para rohaniwan dari agama Siwa/Hindu dan agama Budha, para Brahmana Agung dan para Rsi, yang “mengelilingi” singasana baginda raja, sesuai dengan  tugas kewajibannya masing-masing.  Tidak ada yang membelot dan bertentangan satu sama lainnya, semua pejabat saling menghormati, semua menjunjung kedudukan Sri Haji. Itulah yang menyebabkan sejahtera  kerajaan Bali sewilayahnya, sama-sama menginginkan kesempurnaan hidup. Pemerintahan Beliau diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1259 Saka (1337) Masehi). Entah sudah berapa lama beliau mencapai kejayaan dan kewibawaan dalam pemerintahan, kemudian beliau memilih untuk tidak lagi mempersembahkan upeti ke Wilwatikta(Kerajaan Majaphit) seperti yang dilakukan  oleh pendahulu beliau, apalagi setelah Wilwatikta diperintah oleh raja yang dianggap keturunan Ken Angrok.    


Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 17.  Terima kasih.

Pura Padharman Sukangeneb Sirearya Gajah Para, Tejakula, Buleleng, "Swamba sebagai Dasar Palinggih Gedong"

Meski dengan kondisi ekonomi pas-pasan, pretisentana yang awalnya berjumlah 5 dadia ini pantang menyerah, dengan modal tekad, kemurnian, ketulusan, dan semangat serta keyakinan yang tinggi berusaha sekuat tenaga dan dengan kemampuan yang ada mewujudkan Pura Pedarman ini yang kini memiliki pangempon tetap berjumlah 13 dadia tersebar di seluruh Bali.

Rporter & Foto : Andiawan



Begitu menginjakkan kaki di Jeroan Pura, tampak sejumlah palinggih dan bangunan pendukung lain tertata rapi. Di Jeroan Pura, pamedek dapat melihat sejumlah palinggih hasil karya tangan-tangan terampil dan berjiwa seni tinggi, ditambah sarana yang digunakan, hasil dari penggabungan batu merah alami dengan batu sungai dengan ukuran yang telah disesuaikan, sehingga mampu menghasilkan karya seni bernilai tinggi serta terlihat indah, sakral, dan menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara, di salah satu pojok tampak ruang kosong yang belum tertata, akibat minimnya dana yang dimiliki. Sehingga, pembangunan atau penataan Pura Pedarman dengan luas kurang lebih 15 are ini, tidak bisa dilakukan sekaligus, melainkan bertahap.
Panglisir Pura, I Wayan Lasem mengaku akan berusaha menata pura ini, sehingga kelihatan semakin rapi dan anggun dipandang, serta pamedek betah berada di pura. Pun, kata pria ramah ini, para pretisentana beliau dapat lebih khusuk ngaturang sembah bakti ke hadapan beliau.
Sementara, Jro Mangku Gede Parwata berusaha menjelaskan keberadaan palinggih di Pedarman ini. Dimulai dari Utama Mandala, terdiri dari: Meru Tumpang Sia (Sembilan), Pajenengan, Palinggih Tri Sakti (Kamulan), Palinggih Panca Rsi, Palinggih Anta Boga, Palinggih Ratu Hyang Lurah Sakti, Gedong Catu, Lima Sari,  Palinggih Sakeluang, Pasimpangan Pura Pulaki, Taksu, Bale Pelik/Bale Pasamuan, Bale Pawedan, Pohon Bunga Kembang Sepatu penuh misteri.
Sedangkan di Madya Mandala terdiri dari : Bale kulkul, Bale Pasandekan, Bale Gong dan  dua Palinggih Pengapit Lawang. Di Nista Mandala terdiri dari dua Palinggih Pangapit Lawang, Palinggih Pangayatan Ratu Gede Dasar, dan sebuah bangunan berupa Pewaregan/dapur.
Lebih jauh Wayan Lasem menjelaskan, tentang alasan kenapa pura ini berada di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula. Karena, pada zaman dahulu Desa Tembok adalah bagian dari wilayah Toya Anyar. Bahkan, konon kekuasaan beliau sampai di wilayah Pura Ponjok Batu, Buleleng, sekarang ini.
Setelah dilakukan penataan tata ruang wilayah oleh pemerintah, akhirnya Desa Tembok masuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dengan demikian, secara otomatis Pura Pedarman ini berada di wilayah Kabupaten Buleleng, dan terpisah dengan Toya Anyar yang kemudian lama kelamaan berubah nama menjadi Tianyar hingga saat ini.
Meski demikian, keberadaan pura tidak mungkin dipindahkan, mengingat sesuai dengan babad yang ada, bahwa bukti sejarah riil/nyata yang menguatkan keyakinan akan kebenaran keberadaan Pura Pedarman ini adalah diapit dua tukad (sungai-red) yakni Tukad Gelar dan Tukad Luwah.
“Apabila lokasi pura ini dipindah, sudah tentu tidak sesuai dengan babad yang ada serta tidak ada bukti sejarah yang menguatkan keberadaan pura ini. Karenanya, pura ini tetap berada di wilayah Kabupaten Buleleng,” jelas Nyoman Lasem menegaskan.  
Lebih jauh suami Ni Luh Catra ini berusaha menceritakan sejarah singkat awal berdirinya Pura Padarman ini. Diceritakan,  Sirearya Gajah Para datang ke Bali pada tahun 1270 menuju Toya Anyar menjalankan titah (diperintah) sekaligus tugas dari Maha Patih Gajah Mada, langsung menghadap raja Dalem Klungkung yang diikuti tiga orang Wisia, di antaranya Tan Kaur, Tan Mundur, dan Tan Kobar.
Oleh raja Dalem Klungkung Arya Gajah Para diberi tugas untuk menaklukkan Bali Aga dengan batas wilayah kerja, di sebelah utara adalah Desa Got, di timur Desa Basang Alas/Garbawana, di barat Ponjok Sela beristana di Toya Anyar dan beliau dikaruniai empat orang putra yakni I Gusti Ayu Raras, I Gusti Ngurah Sukangeneb, I Gusti Ngurah Toya Anyar/Abhiseka Sirearya Gajah Para II, serta I Gusti Ayu Tirta.
Kemudian, lanjut Pria kelahiran tahun 1934 ini, Sirearya Gajah Para II berputra tiga orang di antaranya; I Gusti Ngurah Toya Anyar/Abhiseka Sirearya Gajah Para III, I Gusti Nengah Kaler, dan I Gusti Ayu Toya Anyar, karabi (dipersunting-red) oleh Pedanda Sakti Manuaba.

Darah Memerah di Tukad Luwah

Berselang beberapa tahun kemudian, Sirearya Gajah Para pun wafat. Namun, sebelum wafat beliau berpesan kepada cucunya yang bernama I Gusti Ngurah Kaler. Isi pesan itu adalah “Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti aku  meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di pucak Gunung Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari),  dihias dengan bunga-bunga, dan diiringi dengan tabuh serta tari-tarian, karena ibuku dulu adalah seorang bidadari”.  Demikian pesan beliau Arya Gajah Para terhadap cucunya I Gusti Ngurah Kaleran.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih.

Jumat, 05 Agustus 2011

Pura Padharman Sukangeneb Sirearya Gajah Para, Tejakula, Buleleng, "Ditemukan Gundukan Keramat dan P`eninggalan Swamba"

Pura Padharman Sukangeneb yang berlokasi di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Tejakula, Buleleng ini,  panyungsungan pretisentana Sirearya Gajah Para-Bretara Sirearya Getas. Pura ini ditemukan pura ini, berawal dari gundukan tanah yang dikenal sangat angker dan disakralkan. Saat pembangunan dimulai, diwarnai petunjuk gaib yang diterima salah satu warga. Di dalam gundukan tanah keramat itu, konon ditemukan benda peninggalan berupa Swamba dan perlengkapannya. Berikut ulasan selengkapnya.

Reporter & Foto : Andiawan

Selasa, 26 April 2011

Menyingkap Keunikan Pura Pucak Sakti Bukih, Kintamani


Nuansa mistis Pura Pucak Sakti Bukih yang ada di Kintamani menjadi tambah mistis dengan tidak adanya panyengker langsung. Yang ada hanyalah hamparan pohon-pohon hutan dan bojog (kera-red) berwarna coklat dengan ciri khas majambul. Yang dipercara sebagai bura-buri oleh krama setempat. Bagaimanakah keunikannya? Berikut ulasan singkatnya!!!

Pura Luhur Jagasatru, Munduk Kembang Pacah, Penebel (2-habis), "Persembunyian Pusaka Batukaru"


Lebih jauh lagi Kak Mangku Agung menjelaskan bahwa Pura Luhur Muncaksari memiliki hubungan yang sangat erat dengan Pura Luhur Muncaksari. Salah satunya dibuktikan dengan adanya pelinggih pesimpangan Pura Luhur Jagasatru di Pelinggih Saren Kangin atau Pelinggih Saren Loji Pura Luhur Muncaksari.

Pura Dalem Rangkan, Kuwum, Marga (2-habis), "Bau Cepaka Putih, Cihna Ida Sasuhunan Ledang"


Panyungsung Pura Dalem Rangkan sangat menyakini kemurahan hati (pasuecan) Ida Sasuhunan. Beliau diyakini selalu menyertai masyarakat Kuwum dimanapun berada bahkan lintas pulau. Ini ditandai dengan bau harum (wangi bunga cempaka) yang kadang tercium di sela-sela kesibukan panjak Ida Bhatara bekerja, asalkan bhakti pada Ida Sasuhunan maka Beliau selalu menyertai.

Pura Dalem Rangkan, Kuwum, Marga, "Wangsit Pura Dalem Wisesa"


Sejarah mencatat, Pura Dalem Rangkan merupakan peninggalan Raja Mengwi yang selanjutnya diserahkan kepada Belayu untuk dipelihara. Pura ini merupakan saksi kebesaran Hyang Widhi menjawab yasa tulus dari leluhur Raja Mengwi untuk mengalahkan Panca Baya ketika merabas hutan untuk membuat wewidangan. Pura Dalem Rangkan berasal dari kata Urangka (saung) keris.

Senin, 25 April 2011

Pura Dalem Rangkan, di Kuwum, Marga

Sejarah mencatat, Pura Dalem Rangkan merupakan peninggalan Raja Mengwi yang selanjutnya diserahkan kepada Belayu untuk dipelihara. Pura ini merupakan saksi kebesaran Hyang Widhi menjawab yasa tulus dari leluhur Raja Mengwi untuk mengalahkan Panca Baya ketika merabas hutan untuk membuat wewidangan. Pura Dalem Rangkan berasal dari kata Urangka (saung) keris.


Reporter & Foto : Ida Ayu Made Sadnyari  

Menata Kondisi Besakih versi MMDP Karangsem

Besakih menjadi ikon tempat suci teragung di dunia ini. Apalagi dijadikan tempat wisata spiritual. Secara fisik, penataannya sudah lebih dari cukup, bahkan terkesan agung. Namun, di balik megahnya secara fisik, akan lebih baik dibarengi dengan penataan secara mentalitas, sehingga kondisi Besakih mencitrakan lebih baik dan nyaman bagi pengunjung atau pamedek.

Selasa, 12 April 2011

Menelusuri Pura Pucak Panulisan, Sukawana, Kintamani (1)

Pura Pucak Panulisan di Desa Sukawana, Kintamani, Bangli memiliki banyak sebutan. Ada menamakan Pura Panarajon, ada pula menamai Pura Tegeh Koripan. Karena letaknya di Bukit Panulisan, orang-orang pun kebanyakan menyebut Pura Pucak Panulisan. Dan juga disebut Pura Ukir Padelengan.


Puncak Pujawali Pura Muncak Sari, Tabanan

Pura Muncak Sari tertelak tepat di kaki gunung Batukaru, tepatnya di Banjar Anyar, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel. Suasana alamnya begitu pingit, konon banyak orang yang percaya bahwa pura ini bisa mempertemukan pasangan, makanya Pura Muncak Sari sering di sebut Pura jodoh oleh pemedeknya. Bertepatan dengan Pujawali pura, Buda Umanis, (29/12) lalu, pura dipadati pamedek yang datang dari berbagai daerah untuk menghaturkan sembah.

Senin, 11 April 2011

Pura Kawitan/Merajan Agung Pasek Kubakal, Rendang, Karangasem (3-habis) "Wujud Bakti Pertisentana kepada Kawitan"

Semangat membangun mewujudkan parahyangan, tidak lain menunjukkan bakti yang sesungguhnya, setelah lama kocar-kacir dari persatuan. Dengan diwujudkan parahyangan ini kembali menemukan jati dirinya dalam bentuk nyungsung Merajan Agung yang diserta petunjuk niskala.  

Proses pembangunannya dilaksanakan dengan sistem gotong-royong dan kebersamaan, serta dengan konsep berat sama dipikul ringan sama dijinjing. “Saat itu, tiang salut dengan antusias warga saling bahu-membahu dilandasi penuh keyakinan dan ketulusan berupaya semaksimal mungkin mewujudkan sthana beliau,” tegas Ketut Karma penuh semangat  


Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More