Minggu, 21 Agustus 2011

Runtuhnya Kerajaan Bali Kuno


Tidak lama kemudian, murid-murid beliau Sang Mahayogi membangun beberapa palinggih utama yakni : Meru Tumpang Tiga (pajenengan mageng) diperuntukan sebagai sthana  Bhatara Sakti Sasuhunan di Gunung Raung. Dibangun juga Bale Kulkul (Pajenengan Kulkul) yang dibuat dari kayu “tangkai bunga seleguwi”.

Reporter & Foto : Putu Patra


Pajenengan Kulkul (kentongan) tersebut dibunyikan saat Ida Bhatara dimohon untuk turun dari kahyangan bila akan melaksanakan upacara melasti. Juga dibangun Bale Agung yang berhulu (mahulu) di selatan, mempunyai 11 ruangan dan bertiang 24. Bale Agung itu disebutkan dibawa dari Jawa (Gunung Raung), kemudian dibangun kembali yang di hulu/di bagian sebelah selatan linggih Ida Bhatara Sasuhunan sane malinggih di Bale Agung dan di bagian arah utara/tebenan berfungsi untuk tempat rapat (pasamuan) penduduk desa (karama desa) sejak dahulu. Dan tempat itu juga dipakai untuk membagi-bagi cacaran paolih-olih karama desa setelah selesai  menghaturkan upacara Dewa Yadnya.
Diceritakan sekarang, pada masa pemerintahan Sri Haji Kesari Warmadewa yang didukung oleh rakyat Singhamandawa dan para brahmana, rsi dan para bhiksu merencanakan membangun kembali pura-pura yang ada di wilayah kerajaannya, terutama yang sudah rusak disertai dengan upacara Dewa Yadnya  sepeti dahulu. Itulah yang menyebabkan subur makmur kerajaan sewilayah kerajaan Bali. Dan ada titah Baginda Raja kepada rakyat semua, agar seluruh orang yang berada di kerajaan Bali selalu ingat menghaturkan bhakti di pura-pura yang telah dibangun oleh leluhur dahulu. Kalau tidak ingat akan terkena bencana dan selalu bertengkar dengan kerabatnya. Entah berapa lama Baginda raja memerintah akhirnya beliau kembali ke Sorgaloka (meninggal dunia).
Lama kelamaan setelah silih berganti menduduki tahta kerajaan Bali Kuno, sekarang ada salah satu keturunan baginda raja terdahulu yang bertahta di Kerajaan Balidwipa. Beliau bergelar Sri Dharma Udayana Warmadewa. Beliau memerintah sekitar tahun 911 Saka (989 Masehi). Pada masa pemerintahan baginda raja konon sejahtera, subur dan makmurlah kerajaan, karena beliau didukung oleh rakyat yang sangat setia, dan beliau mengangkat  sejumlah senapati yang terhimpun dalam suatu lembaga pemerintahan yang disebut Pakira-kiran I jro makabehan. Bertambah-tambah kewibawaan beliau, karena Dharmapatni sangat paham terhadap berbagai pengetahuan  dan ilmu pemerintah. Pada saat itu baginda raja lagi menitahkan untuk melengkapi sejumlah pura yang telah dibangun oleh leluhurnya dahulu antara lain : Hyang  (pura)  Bukit Tunggal, Hyang (pura) Bangkiang Sidhi, dan Hyang (pura) yang ada di Padang (bangunan suci yang ada di Padangbai : Pura Silayukti). Kemudian beliau membangun lagi kahyangan-kahyangan di beberapa desa (banuwa/thani) seperti Hyang Api, Hyang Tanda dan Hyang Karimana, juga membangun pasraman para mpungku (mpu) yang mempunyai kewajiban memelihara suatu bangunan suci. Banyak lagi pura/parahyangan yang dibangun oleh keturunan beliau kemudian. Demikianlah yang tertulis dalam prasasti.
Tidak diceritakan setelah lama berganti-gantian tahta di kerajaan Balidwipa, kemudian ada salah seorang keturunan baginda raja yang mengendalikan kerajaan Balidwipa beliau bergelar Sri Gajah Wahana, Sri Tapolung atau disebut juga Sri Silahireng. Setelah dinobatkan menjadi raja beliau bergelar Sri Asyasura Ratna Bhumi Banten. Pada masa pemerintahan beliau, memang banyak bala tentara yang setia, juga didukung oleh para senapati, para rohaniwan dari agama Siwa/Hindu dan agama Budha, para Brahmana Agung dan para Rsi, yang “mengelilingi” singasana baginda raja, sesuai dengan  tugas kewajibannya masing-masing.  Tidak ada yang membelot dan bertentangan satu sama lainnya, semua pejabat saling menghormati, semua menjunjung kedudukan Sri Haji. Itulah yang menyebabkan sejahtera  kerajaan Bali sewilayahnya, sama-sama menginginkan kesempurnaan hidup. Pemerintahan Beliau diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1259 Saka (1337) Masehi). Entah sudah berapa lama beliau mencapai kejayaan dan kewibawaan dalam pemerintahan, kemudian beliau memilih untuk tidak lagi mempersembahkan upeti ke Wilwatikta(Kerajaan Majaphit) seperti yang dilakukan  oleh pendahulu beliau, apalagi setelah Wilwatikta diperintah oleh raja yang dianggap keturunan Ken Angrok.    


Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 17.  Terima kasih.

1 komentar:

gak nyambung isi sama judul . kurang pinter nih yg nulis

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More