Senin, 01 Agustus 2011

Jro Gede Jaya Geni (Tapakan Ratu Gede Dalem Peed), "Panugerahan Bhatari Prajapati Ditapak Hyang Gni Jaya"

Jro Gede Jaya Geni (Tapakan Ratu Gede Dalem Peed) adalah satu-satunya tapakan Ratu Gede Dalem Peed yang ditapak Bhatara Lingsir Hyang Geni Jaya yang berstana di Pura  Lempuyang Luhur dan mendapat panugerahan Bhatari Prajapati. Sebelum menjadi Tapakan, Jro Gede Jaya Geni harus menjalaani proses yang panjang dan menjalani gemblengan niskala khusus dari Ratu Gede Dalem Peed dan Ida Bhatari Prajapati. Seperti apa proses ritualnya? Berikut laporannya.


Reporter & Foto : Andiawan





Sangat jarang sebelum seseorang menjadi dasaran atau tapakan melalui proses khusus seperti ini. Di mana, Jro Gede Jaya Geni harus melalui proses beberapa tingkat dan setiap tingkatan ujiannya sangat berat, termasuk upacara dan upakara khusus yang harus dibuat sesuai petunjuk yang telah ditentukan. Layaknya seorang yang akan menapak menjadi sulinggih, ia harus melalui berbagai tahapan, mulai dari jro mangku, jro mangku gede (Bhawati), dan kemudian baru menginjak ke tingkat sulinggih.
Begitu TBA mendapat informasi tentang keberadaan seorang tapakan yang memiliki latar belakang perjalanan unik, dan banyak  penangkilan berhasil dibantu, langsung mendatangi lokasi. Rumahnya mudah dicari, tepatnya di Jl. Soka Gg. Kertapura I/50, Kesiman Denpasar Timur. Tampak dari kejauhan ciri khas di depan kori rumahnya terdapat sebuah palinggih dilengkapi aksesoris berwarna hitam, merah, dan putih. Sementara, di sampingnya terdapat sebuah patung berbahan batu, dan memiliki sejarah unik.  
Tampak seorang lelaki berbadan kekar dan seorang wanita berpakaian seraba putih dengan selempot poleng, dengan rabut mapusung dan terselip bunga merah, menyambut TBA dan mengajak berbincang di ruang tamu. Setelah memperkenalkan identitas dan menjelaskan tujuan kedatangan, pria murah senyum itu lalu berusaha menceritakan perjalanan termasuk pantangan dan tantangan yang harus dihadapi.
“Sebelumnya, tak pernah terlintas di benak akan mengemban tugas suci, mulia, namun sangat berat ini. Nasib berkehendak lain, suka-tidak suka, sanggup tidak sanggup istri bersama tiang selaku pengabih harus siap menjalani tugas itu dengan penuh ketulus-ikhlasan. Tiang yakin, beliau tidak akan memberi ujian kepada umatnya di luar kemampuannya. Berbagai tantangan dan ujian harus tiang hadapi dan lewati. Akhirnya karena tekad, ketulusan, dan keyakinan kepada beliau, tiang bersama istri berhasil menghadapi sekaligus melewati ujian itu,” ujar suami Jro Gede Jaya Geni bernama Made Dhana yang kesehariannya bertugas sebagai pangabih mengawali perbincangannya.
Lebih lanjut bapak satu putra dan tiga putri ini menjelaskan, sebelum menjadi seorang tapakan, istri tercintanya harus melalui proses niskala yang telah digariskan/ditentukan oleh beliau (Sasuhunan yang diiringnya-red) yakni dari tingkatan paling bawah kemudian naik satu tingkat menjadi dasaran, selanjutnya baru menjadi tapakan sujati. Tiap tingkatan itu,  lanjut Jro Made Dhana, pembelajaran dan ujiannya juga berbeda, termasuk upacara dan upakara yang harus dilaksanakan.
Seperti halnya seseorang yang akan menjadi sulinggih, mereka harus mengikuti sejumlah proses yakni sebelum menjadi pemangku harus menjalani upacara pawintenan pemangku, selanjutnya naik menjadi Jro Gede (Bhawati) melaksanakan Pawintenan Eka Jati, selanjutnya ketika menjadi sulinggih yang bersangkutan harus melaksanakan Pawintetan Dwi Jati.  Pembelajaran pun berbeda disesuaikan dengan tingkatannya.
Contoh nyata lain, dalam pendidikan misalnya, seseorang tidak bisa dari SD langsung menjadi sarjana, melainkan harus melalui proses yang panjang, dan tiap tingkatan mata pelajaran dan ujiannya pun berbeda. Karenanya, untuk menjadi seorang tapakan sujati, prosesnya sangat panjang dan cukup berat.

Diserang Penyakit Aneh

Lebih lanjut Jro Gede Jaya Geni menceritakan seputar pengalamannya semasa kecil. Di mana, Jro Gede Jaya Geni sering menderita sakit aneh yang sulit disembuhkan, baik medis maupun non-medis. Segala upaya yang dilakukan keluarganya tak satu pun yang berhasil. Bahkan, oleh neneknya yang saat itu seorang balian, sempat menaruh Jro Gede Jaya Geni kecil di atas pohon pandan guna kesembuhannya, namun usaha itu tak membuahkan hasil. Sampai akhirnya Jro Gede Jaya Geni Kecil dipungut oleh salah satu Ibu misannya (Anak Agung Biang Ngurah-red) di Jero Kapal, Badung.
Sejak tinggal di Jero Kapal, Jro Gede Jaya Geni kecil sembuh seperti sedia kala hingga tumbuh menjadi dewasa. Menginjak usianya 17 tahun, Jro Gede Jaya Geni bekerja di salah satu hotel di bilangan Sanur dan bertugas di bagian dekorasi. 


Selain sebagai staf yang membidangi dekorasi,  sejak tahun 1975 oleh pemilik perusahan, Jro Gede Jaya Geni dipercya untuk ngaci/mabanten di palinggih yang ada di hotel bersangkutan. Lebih jauh diceritakan, terlebih di tempatnya bekerja, terdapat sebuah pohon beringin besar yang konon sesuai hasil teropong niskala sejumlah orang pintar, diyakini sebagai Pasimpangan Bhatari Niang Sakti, Ratu Ayu Manik Mas Maketel, Ratu Gede Panji Landung, dan Pasimpangan Ratu Gede Dalem Peed. Yang mana di bawah pohon beringin itu diyakini sebagai pasar agung niskala.


Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid ini.  Terima kasih. 



0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More