Senin, 01 Agustus 2011

Putu Mangku Budiasa, "Mantan Perbekel Jatuh Bangun Menuju Kursi Dewan"

Menggapai  sukses tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dalam persaingan ketat menuju kursi empuk anggota dewan yang sistemnya beda dengan zaman orde baru. Putu Mangku Budiasa sempat jatuh bangun demi mewujudkan cita-citanya sebagai duta menyalurkan aspirasi rakyat Buleleng khususnya. Dengan modal semangat dan pantang menyerah, akhirnya dirinya sukses menjadi wakil rakyat dan kini dia nikmati dengan suka dan duka guna meperjuangkan hak dan kewajiban rakyat Buleleng. Berikut perjalanan Ketua Komisi B DPRD Buleleng ini selengkapnya.

Reporter & Foto  : Andiawan



Perjuangan seorang anggota legeslatif untuk bisa menuju gedung yang terhormat guna menduduki posisi penting tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, melainkan penuh perjuangan dan pengorbanan. Kegagalan hanyalah sebuah proses awal perjuangan untuk mewujudkan sebuah impian hidup. Semangat, kerja keras, pantang menyerah dan berserah kepada Hyang Kuasa adalah modal utama yang harus dimiliki untuk mewujudkan impian masng-masing. Itulah yang senantiasa dipegang teguh Putu Mangku Budiasa, Ketua Komisi B, DPRD Kabupaten Buleleng.
Menyebut nama Putu Mangku Budiasa tidak asing lagi di telinga masyarakat Buleleng umumnya dan utamanya masyarakat Desa Selat Pandan Banten, Sukasada, Buleleng. Pasalnya, mantan kepala desa ini kerap kali terjun langsung berbaur dengan masyarakatnya. Semangat pengabdiannya yang pantang menyerah dan kerja keras akhirnya mengantarkan Mangku Budiasa sukses merajut karirnya di dunia politik dan  saat ini dipercaya menduduki posisi penting dan strategis di DPRD Buleleng sebagai Ketua Komisi B.
Perlu menjadi catatan kesuksesan yang saat ini diraih Mangku Budiasa, tidaklah mudah, bahkan beberapa kali sempat jatuh bangun alias gagal. Keteguhan hati dan semangatnya untuk bisa mengabdikan diri kepada masyarakat sangat besar dan kuat, sehingga senantiasa menganggap kegagalan itu bukanlah sebagai batu sandungan, melainkan justru dianggap sebagai pengalaman dan pelajaran berharga, sekaligus modal di dalam melangkah agar senantiasa berhati-hati dan penuh kewaspadaan.
“Bagi tiang, kegagalan itu sesungguhnya hanyalah keberhasilan yang tertunda. Dari  kegagalan itulah tiang bisa belajar banyak. Apabila itu dianggap sebagai batu sandungan atau hambatan dan bahkan terlebih putus asa, maka keberhasilan itu akan semakin menjauh dan barangkali tidak akan pernah dapat diraih,” ujar Putu Mangku Budiasa menegaskan saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut pria berbadan tambun ini menjelaskan, awalnya tak pernah menyangka akan terjun di dunia politik terlebih menjadi seorang anggota dewan. Pasalnya, kata bapak satu putra dan satu putri ini, sejak masih muda senang melalangbuana/mengembara untuk mencari jati diri dan sesuap nasi guna menyambung dan bertahan hidup. Segala profesi dan pekerjaan pun pernah dilakoni, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum formal maupun hukum agama.
Sampai akhirnya pada tahun 1987 bertemu dengan gadis pujaan hatinya hingga berujung ke pelaminan untuk membangun rumah tangga yang diidamkan. Setelah menikah Mangku Budiasa bersama mantan pacarnya yang kini menjadi pendamping hidup setianya dan sangat disayang serta dicintai, memutuskan  mengadu sekaligus merubah  nasib bekerja ke Denpasar, guna memenuhi segala kebutuhan hidup.
Setahun kemudian, Pasutri ini dikaruniai seorang putra. Sejak itu kebahagiaan rumah tangganya semakin lengkap. Demikian pula, kondisi ekonominya pun mulai menunjukan geliat yang lebih baik.
Selanjutnya, enam tahun kemudian Mangku Budiasa kembali dikaruniai satu putri, sehingga lengkap sudah kebahagiaan rumah tangganya. Selama merantau pria kelahiran 23 Pebruari 1965 ini, kerap mengalami hidup nomaden (hidup berpindah-pindah-red). Bahkan, selama sekian lama numpang di rumah mertua dan juga pernah tinggal di Tabanan selama kurang lebih 3 tahun. Demikian pula halnya dalam hal pekerjaan, pria ramah dan murah senyum ini mengaku tak pernah memilih-milih pekerjaan.

Pulang Kampung

Waktu terus berjalan, akhirnya sekitar tahun 1998 terjadi krisis global. Mengingat pekerjaannya bersentuhan dengan ekspor-inpor, membuat perusahaan di tempatnya bekerja mengalami failit. Itu artinya, Mangku Budiasa yang dikenal familier ini, menjadi kehilangan mata pencaharian, dan tentu saja berimbas pada kondisi ekonominya yang serba pas-pasan dan bahkan kekurangan.
Merasa tak sanggup lagi tinggal dan hidup di Denpasar, akhirnya Mangku Budiasa memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya/ke kampung halamannya di Desa Selat Pandan Banten untuk memulai merintis hidup baru dari nol bersama keluarganya.
Bersamaan itu, terjadi era reformasi di mana suhu politik mulai menghangat. Entah kenapa Mangku Budiasa tertarik untuk terjun ke dunia politik sekaligus mengawali karirnya di dunia politik, hingga selanjutnya dipercaya sebagai Ketua Ranting PDI-P Desa Selat.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid ini.  Terima kasih. 

1 komentar:

salut pada Bapak Mangku Budiasa, kawan lama,,yang telah berhasil,kita pernah terlibat langsung pada saat susahnya pak Mangku tahun 1991,dan yang masih saya ingat pada saat susahnya Beliau,tapi ada orang yng minta bantuan, apa yg mau ditelannya bahkan dialihkan ke mereka yg minta bantuan. Tapi setelah tahun 1998 kehilangan kontak, hanya bisa liat di TV saja. Mohon infonya nomor telpun Bapak Putu Mangku Budiasa. Mohon diinfokan ke 081999587663 (Kemas Azrozy dan Gede Asmara)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More