Ida Pandita Mpu Natha Jaya Kusuma

Setiap insan Hyang Widhi yang diberikan kesempatan untuk memperbaiki karma-karmanya, diberikan garis kehidupan sesuai karmanya juga. Sementara itu, sulinggih yang satu ini, juga diberikan perjalanan hidup yang berkelok-kelok bagaikan aliran sungai menuju samudera. Lebih-lebih hidup dalam keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang boleh dikatakan serba kekurangan..

Candi Penataran di Desa Panataran, Nglegok, Blitar, Jatim, "Jejak Peninggalan Hindu Majapahit"

Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang mulai dibangun dari kerajaan Kediri dan dipergunakan sampai dengan kerajaan Majapahit. Candi Penataran terdiri atas beberapa gugusan, sehingga lebih tepat kalau disebut kompleks percandian yang melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur..

Keris Bali Bersejarah, "Ki Tunjung Tutur

Menurut kepercayaan masyarakat di Jawa, keris dapur marak dipercaya memiliki tuah untuk mendukung loyalitas dan kesetiaan terhadap pemimpin, menambah wibawa dan karisma pemiliknya. Keris ini cocok dan sesuai dipergunakan oleh para pegawai atau pamong praja. .

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur, Baturiti, Tabanan, "Genah Metapa, Mohon Jabatan""

Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur merupakan kawasan tapa wana, dilestarikan sehingga tidak ada bangunan lain di lokasi ini kecuali terkait dengan pemujaan. Lokasi pura ini dulunya dikenal dengan tempat pertapaan Resi Segening. Seringkali orang datang memohon jabatan ataupun taksu sebagai pemimpin..

Parade Gong Kebyar Wanita Bius Penonton

Parade gong kebyar wanita antara duta Kabupaten Badung dan duta Kabupaten Tabanan pada (23/06) lalu di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 mendapat sambutan meriah, karena penampilannya menjadi primadona aktivitas seni tahunan ini. Duta Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Dharma Kanti Desa Adat Sobangan, Kabupaten Badung dan Kabupaten Badung diwakili oleh Sekaa Gong Desa Adat Tunjuk, Kabupaten Tabanan. Seperti apa meriahnya parade gong kebyar ini, berikut liputannya..

Minggu, 21 Agustus 2011

Berawal Malapetaka


Mengapa ada orang yang harus diruwat? Sejau apakah kepentingan upcara tersebut? Bagaimana asal-usulnya…? Di Jawa, ada banyak jenis upacara yang sedikit banyak berhubungan denagn kepercayaan. Yang sumbernya berasal dari jaman sebelum agama Islam mempengaruhi kebudayaan Jawa. Satu diantaranya yang dapat dikatakan penting di dalam kehidupan orang Jawa, terutama pada waktu yang lampau, ialah ucapaya Ruwat atau juga disebut Ruwatan.

Menurut keyakinan orang Jawa dahulu banyak sekali hal atau peristiwa yang akan dapat mendatangkan malapetaka, apabila tidak menghiraukan dan berikhtiar secara khusus. Maka agar dapat terhindar dari bencana yang setiap saat bisa terjadi, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.
Syarat itu ialah kewajiban orang untuk mengadakan upacara ruwat. Hal-hal yang dianggap memerlukan adanya ucapara itu paling sedikit dapat digolongkan dalam tiga jenis, yakni :
1. Upacara ruwat bagi orang atau anak yang dianggap mempunyai nasib buruk, disebabkan kelahirannya (anak sukerta).
2. Ucapara ruwat bagi orang atau anak yang cacat tubuhnya.
3. Ucapara ruwat bagi orang yang dianggap bersalah, karena telah melanggar pantagan atau merusak benda-benda tertentu.
Kepercayaan tentang datangnya malapetaka yang akan menimpa anak sukerta dan orang-orang yang bernasib sial lainnya itu pada dasarnya berasal dari keyakinan cerita lama, yaitu dari sebuah cerita wayang purwa, yang disebut Murwakala atau Purwakala.
Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana, jadi asal mula dari bencana. Di daerah lain lakon itu disebut juga Dalang Karungrungan atau Dalang Kalunglungan.
Pada dasarnya cerita itu mengisahkan tentang asal dari lahirnya dewa raksasa bernama Kala dan mengenai kehidupannya selanjutnya. Mengenai cerita di daerah satu dengan lainnya ada berbagai variasi, meskipun tidak prinsipal, karena pada dasarnya berasal dari sumber yang sama.
Menurut Pakem Pedhalangan, dalam garis besarnya cerita itu adalah sebagai berikut :
Pada suatu ketika Dewa Siwa bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang diatas samudera dengan naik lembu tunggangannya bernama Lembu Andhini.
Di atas samudera itu Siwa melihat permaisurinya sangat menggairahkan, sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Akan tetapi Dewi Uma tidak berkenan dihati, maka benih Siwa jatuh di tengah lautan.
Setelah masa benihnya itu berubah menjadi makhluku, kian lama kian besar. Akhirnya menjadi raksasa yang sangat besar dan sakti. Ia naik ke Suralaya, tempat bersemayam para dewa, bermaksud untuk menemui Siwa.
Setelah sampai ditempat yang dituju dan bertemu dengan Siwa, ia bertanya siapakah yang menurunkannya dan ia minta agar ditunjukkan manusia-manusia yang bagaimanakah yang diperkenankan untuk menjadi mangsanya.
Dewa Siwa mengakui bahwa ia adalah putera Siwa sendiri, dan diberi nama Bathara Kala. Untuk makannya, Siwa menyebutkan macam-macam manusia yang termasuk anak sukerta.
Maka Dewa Kala segera minta diri turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia-manusia yang telah ditentukan baginya. Ia menuju ke Danau Madirda. Sepeninggal Dewa Kala, Siwa sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkan tadi terlalu banyak, sehingga apabila tidak dihalangi mungkin manusia akan punah dari muka bumi.
Ia lalu memerintahkan kepada Dewa Narada agar menugaskan Dewa Wisnu untuk menjadi dalang membatalkan perintah yang telah diberikan kepada Dewa Kala. Dewa Narada ditugaskan menjadi panjak (penyanyi), Dewa Brahma menjadi penabuh gender (semacam gamelan).
Dewa Wisnu kemudian memakai nama Dalang Kandhabuana, bertugas meruwat manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Dewa Kala. Dengan demikian mereka dapat diselamatkan.
Diceritakan pula, bahwa pada waktu itu ada seorang janda di desa Medang Kawit, bernama Sumawit. Ia memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Karena ia anak tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya pergi mandi di Danau Madirda.
Patuh pada perintahnya, ia lalu pergi ke danau tersebut. Setelah sampai di danau itu ia berjumpa dengan Dewa Kala. Dewa Kala minta kesediaan anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk manusia yang menjadi mangsanya.
Sadar ada bahaya mengancam, Joko segera melarikan diri. Sedangkan Dewa Kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang mendirikan rumah. Tapi akhirnya diketahui oleh Dewa Kala, maka kejar-kejaran terjadi dirumahitu.
Akhirnya rumah menjadi roboh. Pemuda itu lalu bersembunyi di tempat orang yang sedang membuat obat yang menggunakan pipisan. Disini pun ia diketahui oleh Dewa Kala.
Dalam usahanya untuk menghindarkan diri, ia terantuk pada pipihan sehingga benda itu patah. Selanjutnya ia bersembunyi di dapur yang kebetulan sedang dipakai memasak nasi. Di sini pun terjadi kejar-kejaran pula, sehingga menyebabkan dandang (tempat untuk menanak nasi) roboh.
Joko Jatusmati melarikan diri ke luar melalui halaman depan rumah. Di dalam usahanya mengejar pemuda itu di tengah halaman, Dewa Kala terjatuh, karena terlilit batang waluh (cucurbita pepo) yang kebetulan ditanam di halaman tersebut.
Akibatnya ia kehilangan arah ke mana mangsanya melarikan diri. Bersamaan dengan itu, di desa Medang Kamulan terdapat seorang laki-laki bernama Buyut Wangkeng. Ia memiliki anak perempuan tunggal bernama Rara Pripih yang baru saja dinikahkan.
Akan tetapi pengantin baru itu belum rukun, bahkan sang isteri minta kepada ayahnya agar diceraikan dari suaminya. Namun keinginannya tidak disetujui oleh ayahnya. Akhirnya ia membatalkan niatnya setelah ayahnya mengabulkan permintaannya untuk mengadakan ruwat dengan tertunjukan wayang.
Buyut Wangkeng segera menyuruh menantunya mencarikan dalang yang bersedia mempergelarkan pertunjukkan wayang untuk meruwat anaknya. Maka dipanggilah Dalang Kandhabuana.
Pada waktu yang telah ditetapkan pergelaran wang terus dimulai. Banyak sekali orang yang melihat. Diantara penonton itu terdsapat pula Joko Jatusmati, demikian juga Dewa Kala. Akhirnya Dalang Kandhabuana dapat menyelesaikan tugasnya.
Dalang penjelmaan Dewa Wisnu itu berhasil menghalang-halangi Dewa Kala dalam hal mengejar manusia yang menjadi mangsanya. Batara Kala dapat dihalau ketempat asalnya. Demikian pula anak buah dan pengikutnya, seperti kelabang, kalajengking dan lain-lainnya. Setelah itu bumi menjadi aman kembali.
Waktu hendak kembali ke tempat asalnya, baik Dewa Kala, Durga dan lainnya minta bagian dari sajian yang telah disediakan. Dewa Kala minta batang pisang, itik dan burung merpati. Durga minta kain sindur dan bangun tulak.
Kecuali itu tokoh lain seperti Dewi Sri dan Sadana, Kebo Gegeg dan Kebo Celeg dan lain-lain (mereka bukan tokoh jahat) minta bagian pula. Mereka berperan dan memberi petuah agar mereka yang diruwat memperoleh keselamatan.
Dengan demikian maka sebagai unsur pokok di dalam upacara ruwatan selanjutnya, di samping orang menyediakan berbagai macam sajen dan syarat lainnya yang harus dipenuhi, orang harus mengadakan pergelaran wayang purwa, dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Dewa Kala.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih.

Perjuangan Ahli Pijat Urat dan Patah Tulang Wayan Sadia, Sejak Kecil Hidup Melarat, hanya Hidup dari Nyari Ikan


Menjadi tukang pijat bukanlah cita-citanya, namun sunia dan nasib berkata lain, Wayan Sadia tak mampu menolak dan harus ngiring menjalankan tugas suci dan mulia. Sejak ngiring, ribuan orang dan bahkan banyak pejabat penting dan tamu asing pernah dibantu. Sebelum akhirnya ngemargiang tugas suci itu, Wayan Sadia terlebih dahulu harus melewati berbagai ujian sekala-niskala sangat berat. Tanpa sadar, sering pergi ke suatu tempat tengah malam dan ketika sadar sudah berada di kuburan, dan tempat lainnya.  Seperti apa kelengkapan cerita dan kisahnya? Berikut hasil liputan Bali Aga.



Mendengar nama Wayan Sadia mungkin sebagian besar orang yang pernah berurusan masalah pijat memijat, terutama yang pernah keseleo ringan, sakit pinggang hingga menderita patah tulang, tak asing lagi, mengingat sejak ngiring ngemargiang tugas suci dan mulia, ribuan pasien berhasil disembuhkan. Sebenarnya sejak lama TBA sudah mengetahui, namun karena kendala waktu, sehingga baru kali ini bisa bertandang ke rumah pria yang dikenal ramah dan humoris ini.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 14.00, Wita dan langit terang serta terik Matahari terasa sangat menyengat kulit saat TBA meluncur ke tempat kediaman Wayan Sadia (ahli tukang pijat urat dan patah tulang-red) yang berada di bilangan Banjar Pesanggaran, Kelurahan Pedungan, Denpasar Selatan. Tepatnya, di Jalan By Pass Ngurah Rai No. 696 Pesanggaran Denpasar Selatan. Jalur By Pass Ngurah Rai yang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan berbagai jenis dan ukuran, membuat TBA harus ekstra hati-hati menyeberang untuk sampai di rumah yang dituju.
Tampak di depan rumahnya dua patung wanita dengan posisi tangan layaknya orang yang sedang mengucapkan panganjali umat Hindu, serta pada tembok bawahnya dicat warna hitam putih. Di sisi kedua patung itu, tumbuh pohon kelor dan tanaman berkhasiat lainnya yang sering digunakan sebagai sarana dalam menjalankan tugasnya. Sementara, di depan warungnya, tumbuh begitu subur dua pohon kelapa gading sedang berbuah lebat. Mobil dan sepeda motor pasien berbagai jenis dan merk terlihat parkir berjejer rapi  di depan rumahnya.
Mengingat orang yang dicari sedang sibuk melayani pasien yang sedari tadinya sabar menunggu antrean, TBA memutuskan untuk menikmati hangatnya kopi jahe dan sedikit camilan di warung milik Wayan Sadia. Seorang wanita yang tiada lain istrinya, terlihat sibuk majajahitan, sambil menunggu pembeli dan sesekali dengan senyum manis dan penuh keramahan melayani keluarga pasien yang berbelanja. TBA pun berusaha mengorek sedikit cerita dari wanita bernama Nyoman Mendri ini, selama mendampingi sang suami tercinta ngemargiang tugas mulia itu.
“Wenten napi pak, jagi mapijet tur sungkan napi,” demikian wanita ramah itu menyapa sekaligus bertanya. Kata itulah pertama kali yang keluar dari bibir wanita yang dikenal pekerja keras ini. Setelah dijelaskan semuanya, Nyoman Mendri, lalu menyuruh TBA menunggu. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya semua pasien selesai terlayani. Itu artinya, giliran TBA sudah tiba. Tak mau membuang waktu, langsung masuk ke tempat di mana Wayan Sadia melayani pasiennya.
Senyum penuh keramahan dan tutur bahasanya yang santun, pria kelahiran tahun 1954 ini menyapa TBA seraya menanyakan maksud dan tujuan kedatangan. Setelah dijelaskan semuanya, Wayan Sadia langsung bercerita seputar pahit getirnya kehidupan terutama di saat menerima ujian dari beliau untuk ngayah menjadi seperti sekarang ini.
“Saking alit tiang sampun melarat, kondisi ekonomi orangtua yang serba kekurangan membuat tiang harus kerja keras membantu orangtua mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Waktu kecil tiang biasanya mencari ikan untuk diberikan kepada orang-orang yang lebih mampu, kemudian ditukar dengan beras,” jelas Wayan Sadia dengan tatapan menerawang jauh mengenang nasib masa kecilnya yang sungguh pahit dan hari-harinya dihabiskan di kubangan lumpur kemelaratan.

Biodata
Nama               :  Wayan Sadia
Lahir                : Tahun 1954
Nama Istri       : Nyoman Mendri
Anak               : Tiga Orang Putra
Pengalaman     :  Ahli Pijat Urat dan Patah Tulang
Ngiring            :  Sejak tahun 1988
Alamat            : Banjar Pesanggaran, Pedungan, Denpasar Selatan tepatnya di Jalan By Pass Ngurah Rai No. 696 Pesanggaran Denpasar Selatan.


Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih.

Atribut Sektor Utara


Anda sekarang telah memahami tentang pembagian kotak 9 sebuah lahan. Pembagian lahan tersebut berguna untuk mengetahui keberuntungan dari sebuah lahan bangunan. Tetapi biasanya lahan tidak dibangun seratus persen habis untuk bangunan.

Seperti halnya lahan, maka pada bangunan kita akan melakukan teori pembagian 9 untuk mengetahui sudut hilang dan kemudian lebih jauh akan mengetahui keberuntungan umum dari suatu bangunan. Sebagai acuan untuk menentukan pembagian sektor pada bangunan adalah bagian terluar dari pondasi rumah dan bukan atap. Ilustrasi berikut hampir sama dengan contoh pada pembagian lahan.  

Setelah melakukan pembagian denah rumah maka tampak sudut hilang terjadi di sektor Tenggara dan sebagian sektor Selatan. Misalnya kalau terjadi sudut hilang di sektor Selatan maka dari sisi kesehatan yang dipengaruhi adalah organ jantung sebab salah satu atribut sektor Selatan adalah organ jantung.

Materi yang disajikan berikut adalah atribut dari setiap arah mata angin dan bagaimana cara menciptakan keseimbangan masing-masing arah agar rumah harmonis sesuai dengan teori feng shui. Dasar praktek feng shui adalah mencapai keseimbangan sektor agar sektor tersebut membawa keberuntungan sesuai dengan atribut dari setiap arah mata angin.


4. ATRIBUT SEKTOR UTARA

Angka: 1
Keberuntungan: Karir dan bisnis
Unsur: Air
Bentuk: Gelombang, lengkung, kurva
Warna: Biru dan hitam
Bagian tubuh: Ginjal, telinga atau audio
Anggota keluarga: putra tengah
Binatang: Kura-kura

SIMBOL-SIMBOL AKTIFASI
Kolam kura-kura+patung naga, bangunan tinggi di utara, akuarium (tidak boleh ada akuarium di kamar tidur), Ru Yi, hiasan bentuk bergelombang, ikan arowana, art work bahan logam, simbol Monyet duduk di atas Kuda, lukisan gunung.

SIKLUS 5 UNSUR
Diaktifasi dengan benda-benda logam dan simbolis api kecil, contoh; lilin, warna merah sedikit. Dilemahkan oleh unsur kayu. Dihancurkan oleh unsur tanah. Seimbang dari simbol-simbol unsur air.

Sektor Utara tidak boleh ada sudut hilang dan bagus untuk lokasi sumur bor, kran air dan PAM.  Ciri-ciri masalah kalau sektor Utara tidak seimbang adalah; Karir biasa saja, susah cari kerja, bingung, keseimbangan tubuh sering terganggu/mirip vertigo, mati tidak wajar, sakit parah dan sering kecelakaan.

 Anda sekarang telah memahami tentang pembagian kotak 9 sebuah lahan. Pembagian lahan tersebut berguna untuk mengetahui keberuntungan dari sebuah lahan bangunan. Tetapi biasanya lahan tidak dibangun seratus persen habis untuk bangunan.

Seperti halnya lahan, maka pada bangunan kita akan melakukan teori pembagian 9 untuk mengetahui sudut hilang dan kemudian lebih jauh akan mengetahui keberuntungan umum dari suatu bangunan. Sebagai acuan untuk menentukan pembagian sektor pada bangunan adalah bagian terluar dari pondasi rumah dan bukan atap. Ilustrasi berikut hampir sama dengan contoh pada pembagian lahan.
   
Setelah melakukan pembagian denah rumah maka tampak sudut hilang terjadi di sektor Tenggara dan sebagian sektor Selatan. Misalnya kalau terjadi sudut hilang di sektor Selatan maka dari sisi kesehatan yang dipengaruhi adalah organ jantung sebab salah satu atribut sektor Selatan adalah organ jantung.

Materi yang disajikan berikut adalah atribut dari setiap arah mata angin dan bagaimana cara menciptakan keseimbangan masing-masing arah agar rumah harmonis sesuai dengan teori feng shui. Dasar praktek feng shui adalah mencapai keseimbangan sektor agar sektor tersebut membawa keberuntungan sesuai dengan atribut dari setiap arah mata angin.


4. ATRIBUT SEKTOR UTARA

Angka: 1
Keberuntungan: Karir dan bisnis
Unsur: Air
Bentuk: Gelombang, lengkung, kurva
Warna: Biru dan hitam
Bagian tubuh: Ginjal, telinga atau audio
Anggota keluarga: putra tengah
Binatang: Kura-kura

SIMBOL-SIMBOL AKTIFASI
Kolam kura-kura+patung naga, bangunan tinggi di utara, akuarium (tidak boleh ada akuarium di kamar tidur), Ru Yi, hiasan bentuk bergelombang, ikan arowana, art work bahan logam, simbol Monyet duduk di atas Kuda, lukisan gunung.

SIKLUS 5 UNSUR
Diaktifasi dengan benda-benda logam dan simbolis api kecil, contoh; lilin, warna merah sedikit. Dilemahkan oleh unsur kayu. Dihancurkan oleh unsur tanah. Seimbang dari simbol-simbol unsur air.

Sektor Utara tidak boleh ada sudut hilang dan bagus untuk lokasi sumur bor, kran air dan PAM.  Ciri-ciri masalah kalau sektor Utara tidak seimbang adalah; Karir biasa saja, susah cari kerja, bingung, keseimbangan tubuh sering terganggu/mirip vertigo, mati tidak wajar, sakit parah dan sering kecelakaan.



Jero Mangku Pasek Mukti Murwo Kuncoro. Ketua Pengempon Puri Agung Dharma Giri Utama, di Jl. Tegal Harum No. 14 Biaung, Denpasar Timur.




Ciri-Ciri Baik Buruknya Palemahan


Palemahan atau tanah yang ada di bumi ini, baik itu yang telah menjadi hak milik, hak pakai ataupun yang akan diupayakan untuk memperolehnya dengan cara membeli, menyewa dan lain sejenisnya, apabila nantinya akan digunakan sebagai perumahan ataupun ternpat tinggal rnelanjutkan kehidupan, perlu diteliti secara baik sebelumnya.



Hal ini sangat dipandang perlu agar nantinya setelah dipilih dan dibangun serta lanjut ditempati, tujuan sebagai umat Hindu vang akan menempati sesuai dengan tujuan agama yang dianutnya tercapai yaitu : "Mokshartham Jagadhitaya Ca Iti Dharmah" yaitu kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin melalui jalan dharma.
Pengamalan dari tujuan tersebut berupa rasa aman, tentram, damai, sehat walafiat, tenang dan menyenangkan dalam lahir dan batinnya. Rumah atau tempat tinggal mempunyai waktu atau kesempatan yang paling banyak untuk digunakan baik untuk bekerja, istirahat, tidur, bermain dan lain sejenisnya.
Sebagai bahan untuk dasar penelitian, sumber sastra agama Hindu dari Beliau "Bhagawan Wiswakarma", yang dinyatakan dalam lontar Wiswakarma Tattwa dapat dijadikan pedoman untuk dihayati, karena tanah atau palemahan itu memiliki nilai baik dan buruk. Akan hal ini dapat dilihat dari ciri-cirinva.


Ciri-Ciri Palemahan Hayu
dinyatakan sebagai berikut:
........."sikut palemahan, sajroning ngawit palemahan, genah karang pahumahan, sane kabawos hala mwah hayu, manut lingira Bhagawan Wiswakarma, luire :
yan hana wang salah siki, palemahannya sidha nenggik ka ulon, mwang palemahannya tinggar, ika inucaparang manemu labha, paknanya prasidha umangguhang pikolih sang manpumahin kasinahanya, palemahanika manenggik mwang tinggar, Sang Hyang Surya tan katawengan, saking wawu mpug nvantos sumurup, sarwa tumuwuh ikang katempuhung dening teja nira Sang Hyang Surya, matemahan hurip waras, mangkana juga ikang janma manusa, kabwatan juga kamenakanira dening teja nira Sang Hyang Raditya, manggeh wiwitaning bukti lawan mukti.

Maksudnya:
Ukurlah palemahan terlebih dahulu untuk tempat perumahan, yang dinyatakan buruk dan baik, sesuai petunjuk Beliau Bhagawan Wiswakarma seperti:
Apabila ada salah seorang, palemahannva terletak di Barat miring ke Timur, itu dinyatakan "Manemu Laba" atau mendapatkan kuntungan letaknya, mampu mendapatkan kebaikan bagi yang menempati perumahannya. Jelasnya letak palemahan itu tinggi dan mempunyai kemiringan sehingga sinar matahari tak terhalangi dari mulai terbit hingga terbenam. Semua jenis tumbuh-tumbuhan semua mendapatkan sinar matahari, mengakibatkan hidup dan berkembang sempurna, demikian pula mahluk manusia, mendapatkan pula kebaikan dan sinar matahari ini, dapat menimbulkan adanya bukti vang dapat disaksikan.
Selanjutnya pada lembar berikutnya dinyatakan:
"yan hana palemahan nenggik kelod, lebah kaler. Kawastaning Paribhoga Wrddhi, ngaran Wrddhi Putra, tan kirang pangan mwang kinum sang mangumahin, munggwing saking tejan Sang Hyang Surya ring palemahan iki, sama kalwihanika, kadi inucap ring pascima".

Maksudnya :
Anabila ada palemahan tinggi di Selatan miring ke Utara, dinyatakan, Paribhoga Wrddhi, atau WrddhiPutra, tidak kekurangan makanan dan minuman mereka yang bertempat tinggal disana, karena dari sinarnya Matahari terhadap palemahan ini. Sama baiknya seperti yang telah dinyatakan pada palemahan yang di Barat.
Pada lembar berikutnya, dinyatakan :
"yan hana palemahan rata, tan katawengan saking catur desa, makadi tan wenten ring panyandingnya, nunggil gumanti katonin, palemahan puniki kabawos madia, tanjanten becik tan janten kaon, yan palemahan rata kadi inucap, sajawaning polih tejan Ida Sang Hyang Surya sanejangkep, talerpepek ring bayun toya miwah angin, sane ngawinang tanahe mabayu, tur matanekan kedik pisan, mawinan mokoh sarwa tanem tuwuh sane katandur".
Maksudnya :
Apabila palemahan itu datar, tidak terhalang dari keempat arah, seperti tidak ada yang menyainginya, menyendiri itu tampaknya, palemahan itu ternasuk sedang, tidak termasuk baik ataupun buruk. dan palemahan seperti dinyatakan datar tersebut, selain mendapatkan sinar matahari yang lengkap, juga tetap mendapatkan kekuatan dari air, dan angin, yang menyebabkan tanahnya subur, dan terserap sedikit sekali, sehingga menyebabkan suburnya tanam-tanaman yang ditanam.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih.  

Penghinaan Raja Sri Dandang Gendis


Adapun Sri Jaya Kusuma memiliki keturunan Sri Wira Kusuma, tidak mengikuti aturan kata krama keluarga, dan beliau melahirkan keturunan berada di pulau Jawa. Tidak diceritakan lagi kelanjutannya. Kembali Sri Jayasabha yang diceritakan. Beliau memiliki keturunan seorang laki-laki, bernama Sirearya Kediri memiliki keturunan bernama Arya Kepakisan, beliau dikirim oleh keturunan dua orang semua laki-laki, beliau Pangeran Nyuhaya, dan Pangeran Asak, sama-sama mengembangkan keturunan di Bali, Cerita disudahi.



Kembali diceritakan yang terdahulu, Jaya Waringin dan Jaya Katha, keturunan beliau Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong. Beliau berdua yang gugur dalam pertempuran, beliau berdua yaitu Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang menyerah ke Tumapel. Waktu ayah beliau hancur dalam peperangan negara Daha menjadi kacau. Akhirnya berlanjut sampai cucu terkena kehancuran, kutuk beliau pendeta Siwa maupun golongan Budha.
Apa yang menyebabkan perang itu dan keraton menjadi hancur? Dengarkan tambahan cerita ini. Pada tahun Saka yang lalu 1144 (1222 M) bulan Palguna (sekitar Pebruari), hari ketiga belas, setelah bulan Purnama, hari sepekan Watugunung, pada saat itu perintah beliau Raja Ken Angrok, beliau yang bertahta di Tumapel, menyerang keRajaan  Galuh, atas desakan beliau para pendeta Siwa maupun golongan Budha.
Bahwasannya Raja Sri Dandang Gendis, durhaka pada para pendeta, menghina kewajiban Sang Brahmana, ibarat seperti Maha Raja Nahusa, yang berkeinginan menguasai surga. Demikian perbuatan Raja Sri Dandang Gendis, menyebabkan semua pendeta menjadi bingung mengungsi ke Tumapel. Sekarang kerajaan Daha, ibarat seperti segunung rumput kering hancur lebur terbakar oleh api, siap dibakar? Itulah kemarahan sang pertapa, berkobar dalam pikirannya, ditiup angin tak henti-hentinya Raja Sri Ken Angrok menghembus, semakin nyala tak ada tandingannya.
Pada akhirnya, Sri Aji Dandang Gendis menyerah. Sadar akan ajalnya tiba, karena Raja Sri Ken Angrok sungguh seorang keturunan Brahmana dari Waisnawa. Beliau juga dijuluki Hyang Guru. Nah itu sebabnya Sri Raja Dandang Gendis, memusatkan pikiran, menggelar rahasia bhatin, segera moksa tanpa jasad turut pula kandang kuda beserta pembawa puan, payung, terlihat samar bayangan beliau, melambai di angkasa menuju Wisnuloka. Demikian jelas Sri Raja telah menyatu di alam sana.

Ada lagi yang diceritakan yaitu para prajurit  dan menteri, lebih-lebih para keluarga utama (dekat), rakyat yang masih hidup. Semua cerai-berai mencari tempat berlindung, mencari tempat persembunyian agar selamat, sebab pemimpin perang adalah Siwa Wandhira, beserta Misawalungan, semuanya telah gugur dengan penuh keberanian.
Masih ada dua orang keluarga keturunan utama, Jaya Katha dan Jaya Waringin yang terkenal, keturunan Jaya Katong, beserta Siwa Wandhira yang gugur dalam medan perang.
Mereka berdua dendam atas tewas ayahnya dalam pertempuran, maju menyerang seperti harimau galak, lalu ditangkap bersama-sama oleh empat orang berani yang  masing-masing bernama, Arya Wang Bang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, di sana Jaya Katha dan Jaya Waringin, keduanya ditangkap. Tidak mampu melawan ikut pula istri Jaya Katha dibawa berlari beliau sedang hamil, sedang mengidam. Adapun Jaya Waringin, masih perjaka, belum mempunyai istri. Keempat menteri tersebut semua belas kasihan terhadap beliau Jaya Katha, dan terhadap Siwa Wandhira, itulah sebabnya lepas tidak terkena senjata.  

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih.  

Filosopfi Bilangan

Bilangan 108 adalah simbol nyasa alam semesta. Bilangan yang melambangkan bhuana agung. Apabila seseorang melakukan japa dengan mengucapkan mantra  suci sebanyak 108 kali, maka gaung mantra yang diucapkan akan memenuhi seluruh alam semesta.



Setiap sudut alam semesta dipenuhi oleh getaran suci mantra yang diucapkan. Semua dewa-dewa  dan makhluk-makhluk gaib lain baik yang ada di bhuana agung maupun yang ada di bhuana alit merasakan perbawa kesucian mantra itu. Kerena itulah, japa dengan pengucapan mantra 108 kali mampu menyucikan bhuana agung, alam raya tempat manusia hidup. Juga mampu menyucikan bhuana alit, yaitu tubuh spiritual pelaku japa itu sendiri.
Kalau kita ingin menggambar suatu daerah yang luas di atas kertas, maka pertama-tama kita harus menentukan arah mata angin. Arah mata angin digambarkan  di atas kertas berupa titik-titik. Mula-mula dibuat satu titik di tengah sebagai pusat.  Kemudian tentukan letak titik utara, timur, selatan, barat. Selanjutnya tentukan titik-titik yang menggambarkan arah : arah timur laut, tenggara, barat daya, dan barat laut. Kalau akan menggambarkan peta dunia dan delapan titik lainnya yang mewakili delapan arah mata angin. Setelah itu baru gambar kutub-kutub dan benua-benua lainnya. Kutub utara digambar di arah utara. Kutub selatan di arah selatan, Benua Amerika di arah barat, dan seterusnya. Hal yang sama juga dilakukan kalau mau menggambar kedudukan rasi bintang di alam semesta.
Jadi kalau kita akan menggambar  alam semesta yang pertama dilakukan adalah menggambar satu titik di tengah-tengah kertas. Kemudian buat titik-titik yang menggambarkan arah timur, tenggara, selatan, barat daya, dan seterusnya. Titik-titik yang disebut belakangan ada sebanyak delapan buah titik dan dibuat di pinggir kertas (lihat gambar).


 
Perhatikan gambar tersebut. Di sana terlihat:
-          Satu titik di tengah kertas
-          Setelah itu ruang kosong
-          Kemudian ada 8 titik di pinggir kertas.

Sekali lagi :
Satu titik ….. ruang kosong … delapan titik. Atau 1…0…8, atau 108.
Demikianlah penjelasannya kenapa bilangan 108 merupakan symbol atau lambang alam semesta.
Kemudian penulis mohon penjelasan lagi, kenapa pengulangan  mantra dalam japa mesti dilakukan sebanyak bilangan lambang alam semesta. Kenapa bukan 99, 126, 135 atau yang lainnya?
Tuhan dalam perbawa sebagai Sang Hyang Saraswati menjelaskan sebagai berikut.
Jika seseorang melakukan japa dengan mengucapkan mantra suci sebanyak bilangan alam semesta (108) maka gaung mantra yang diucapkan akan memenuhi seluruh alam semesta. Setiap sudut alam semesta dipenuhi oleh getaran suci mantra yang diucapkan. Semua dewa-dewa dan makhluk-makhluk gaib lainnya baik yang ada di bhuana agung maupun di bhuana alit merasakan perbawa kesucian mantra itu. Beliau semua akan merasa senang dan puas.  Beliau semua akan member anugerah kepada seluruh bhuana agung dan kepada  pelaku japa. Karena itulah japa dengan pengucapan mantra suci sebanyak 108 kali mampu menyucikan bhuana agung, alam raya tempat manusia hidup. Juga mampu menyucikan bhuana alit yaitu tubuh spiritual pelaku japa itu sendiri.
Angka 9 adalah angka terbesar di antara seluruh angka yang ada, yaitu 0, 1, 2, 3, ……9. Bilangan 9 adalah bilangan satuan terbesar. Bilangan 99 adalah bilangan puluhan terbesar. Bilangan 999 adalah bilangan ratusan terbesar. Kalau mengucapkan  mantra sebanyak 99 kali berarti sudah mengucapkan mantra dengan jumlah terbanyak dalam strata puluhan. Sebab, di atas 99 adalah 100. Ini adalah bilangan “ terkecil” dalam strata ratusan. Filosofi dari angka 99 adalah terbesar atau terbanyak. Tidak ada lagi bilangan puluhan yang lebih besar.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid edisi 12.  Terima kasih. 

Jumat, 05 Agustus 2011

Pura Padharman Sukangeneb Sirearya Gajah Para, Tejakula, Buleleng, "Ditemukan Gundukan Keramat dan P`eninggalan Swamba"

Pura Padharman Sukangeneb yang berlokasi di Banjar Dinas Ngis, Desa Tembok, Tejakula, Buleleng ini,  panyungsungan pretisentana Sirearya Gajah Para-Bretara Sirearya Getas. Pura ini ditemukan pura ini, berawal dari gundukan tanah yang dikenal sangat angker dan disakralkan. Saat pembangunan dimulai, diwarnai petunjuk gaib yang diterima salah satu warga. Di dalam gundukan tanah keramat itu, konon ditemukan benda peninggalan berupa Swamba dan perlengkapannya. Berikut ulasan selengkapnya.

Reporter & Foto : Andiawan

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More