Ida Pandita Mpu Natha Jaya Kusuma

Setiap insan Hyang Widhi yang diberikan kesempatan untuk memperbaiki karma-karmanya, diberikan garis kehidupan sesuai karmanya juga. Sementara itu, sulinggih yang satu ini, juga diberikan perjalanan hidup yang berkelok-kelok bagaikan aliran sungai menuju samudera. Lebih-lebih hidup dalam keluarga besar dengan kondisi ekonomi yang boleh dikatakan serba kekurangan..

Minggu, 21 Agustus 2011

Dharmayatra Ashram Sari Taman Beji Ngubeng di Banyuwangi, Jatim, "Ashram Sari Taman Beji Diamankan Patwal Polres Pasuruan"

Rombongan berangkat 25 Juni 2011 pukul 07.00 Wita dengan peserta berjumlah 150 orang terbagi menjadi tiga bus, mula pertama berkumpul di Lapangan Kompyang Sudjana dua bus dan di Renon satu bus  serta ada juga yang naik dalam perjalanan mengingat peserta berasal dari seluruh Bali. Seperti biasanya sesampainya di Pura Rambut Siwi rombongan tak lupa menghaturkan sembah bhakti sebagai awal perjalanan untuk mendapatkan anugrah-Nya agar senantiasa mamargi antar labda karya sidaning don (berjalan lancar). Reporter : Andiawan Semua peserta tak terkecuali tiga orang sulinggih di antaranya Ida Pandita Mpu Sidyana Samyoga dari Griya Agung Cemagi,...

Runtuhnya Kerajaan Bali Kuno

Tidak lama kemudian, murid-murid beliau Sang Mahayogi membangun beberapa palinggih utama yakni : Meru Tumpang Tiga (pajenengan mageng) diperuntukan sebagai sthana  Bhatara Sakti Sasuhunan di Gunung Raung. Dibangun juga Bale Kulkul (Pajenengan Kulkul) yang dibuat dari kayu “tangkai bunga seleguwi”. Reporter & Foto : Putu Patra Pajenengan Kulkul (kentongan) tersebut dibunyikan saat Ida Bhatara dimohon untuk turun dari kahyangan bila akan melaksanakan upacara melasti. Juga dibangun Bale Agung yang berhulu (mahulu) di selatan, mempunyai 11 ruangan dan bertiang 24. Bale Agung itu disebutkan dibawa dari Jawa (Gunung Raung), kemudian dibangun kembali yang di hulu/di bagian sebelah selatan linggih Ida Bhatara Sasuhunan sane malinggih di Bale Agung dan di bagian arah utara/tebenan berfungsi...

Ki Baju Rante

Keris Ki Baju Rante berdhapur keris pedang. Dhapur keris pedang cukup populer berkembang di Bali. Keris dengan bentuk semacam inilah yang diduga oleh para kalangan masyarakat perkerisan sebagai keris yang digunakan senjata perang. Keris Tangguh Bali ini bernama lengkap Keris Komando Pajenengan Ki Baju Rante yang dibuat Mpu Pande Rudaya. BilahDhapur : Keris Pedang Dari Kerajaan Karangasem, abad ke 18.  Keris ini dikerjakan pada masa Raja Karangasem bergelar Ida Angloerah Made Karangasem. Dikerjakan oleh Mpu Keris Kerajaan Karangasem Pande Rudaya dari Desa Jasi, Karangasem, di pelataran Puri Gede Karangasem.Keris ini sangat bertuah, diberi nama Ki Baju Rante karena dapat menembus baju rante/baja (kre). Pada 8 Oktober 1989, keris Ki Baju Rante dikoleksi oleh AA. Gde Rai Suteja, selaku ...

Pandita Mpu Eka Dharma Santi & Pandita Mpu Istri Eka Dharma Santi Satya Semaya, "Tresna Sampai Lebar"

Tresna hingga lebar itulah yang dialami salah satu sulinggih mabhiseka Ida Pandita Mpu Eka Dharma Santi dari Griya Agung Pasek Tuwed, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Jembrana. Pasalnya, Ida Pandita Mpu Istri Eka Dharma Santi yang lebar (meninggal) tanggal 20 Maret, kemudian disusul  Ida Pandita Mpu Eka Dharma Santi yang leba tanggal 7 April 2011.. Kejadian ini memang sangat jarang terjadi, dan mungkin baru pertama kali. Barangkali semasa hidupnya Ida Pandita Mpu pernah berjanji dan Tuhan mengabulkan permohonannya itu. Sudah dipastikan diaben bersama-sama. Seperti apa ceritanya, berikut hasil penuturan Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika,...

Wangsit Gajah Para kepada Cucunya Ngurah Kaler

Adapun pesan beliau terhadap cucunya, yang bernama I Gusti Ngurah Kaler, katanya “ Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti saya meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di pucak Gunung Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari),  dihias dengan bunga-bunga, dan diiringi dengan tabuh serta tari-tarian, karena ibuku dulu bidadari”. Kembali diceritakan, waktu I Gusti Ngurah Pulaki, memohon berubah wujud menyatu dalam alam tidak tampak mengikuti Bhatara di Mlanting, I Gusti Ngurah Pegametan, sedang tidak ada di rumah, beliau pergi mengunjungi Bendesa Kelab, yang berada di Jembrana. Beberapa hari berada di sana, kembali pulang dia ke Pulaki, bersama semua pengiringnya, tidak diceritakan dalam perjalanan, segera sampai di perbatasan desa, kaget perasaannya I Gusti Ngurah Pegatepan, karena...

Hal Pemanes Karang

Segala yang disebut Pamanes Pekarangan, seperti: Kemasukan gelap, dan terbakar, patut membangun palinggih berupa Padma rendah, sthana Sang Hyang Indra Blaka. Apabila tidak membangun sthana untuk Sang Hyang Indra Blaka, tidak putus-putusnya menemukan sakit bermacam-macam, walaupun hingga sepuluh kali telah macaru, tak akan bisa selesai oleh caru itu, karena Beliau Sang Hyang Indra telah berubah menjadi Sang Hyang Indra Blaka, menjadi Kala Maya, menjadi Kala Desti, demikian dinyatakan. Caru Ngamatiang SemerPangelemnya:Daksina 1, mwah nasi wong-wongan ireng iwaknya kakul, Perasnya matumpeng ireng, iwaknya pencok kacang, ay am ireng pinanggang, mwangjijih makaput antuk tapis, kawangen 7, dadi pangelem, maduluran nasi salah warna limang warna, iwaknya saka wenang, alednya klakat sudamala.Maksudnya...

Ngutpeti-Stiti Sang Hyang Brahma

Pikiran lurus bersih dan cara hidup sederhana membuat seseorang merasa hidup bahagia. Hidup dengan akal yang banyak dan pikiran yang menjelimet cenderung membuat seseorang merasa tidak bahagia. Demikian juga hidup di jalan spiritual. Teknik Samadhi yang rumit akan sulit mencapi  tujuan tertinggi. Justru teknik yang sederhana mengantarkan seseorang mencapai tujuan tertinggi dengan cepat. Seorang penganut Tantra yang tekun akan mengalami peningkatan spiritual secara bertahap. Setelah latihan beberapa lama dia akan naik  dari spiritual biasa ke tingkat spiritual sidhi. Kemudian meningkat lagi ke tingkat spiritual suci dan akhirnya sampai pada tingkat spiritual mulia.Sidhi artinya sesuatu yang diinginkan atau yang dikehendaki akan berhasil. Kata sidhi kurang popular di Bali. Di pulau...

Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran, "Malinggih Berkat Wangsit Niskala"

Sejak masih usia muda, Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran memiliki hobi sekaligus kebiasaan tangkil ke sejumlah pura, baik di Bali maupun di luar Bali. Kebiasaan itu dilakoni dengan penuh ketulusan. Rupanya tanpa disadari, kebiasaan itu sudah merupakan tuntunan sekaligus sebuah proses mengantarkan Ida Pedanda menapak kesulinggihan. Manusia hanya bisa sebatas berusaha dan berdoa, Tuhan-lah yang akhirnya menentukan semua hasilnya. Bagaimana lika-liku kehidupan Peranda selama walaka hingga madiksa? Berikut liputannya. Reporter & Foto : Andiawan Ida Pedanda Gede Ngurah Kaleran yang saat walaka maparab Ida Bagus Nuratmaja ini adalah sosok Pedanda...

Ki Gagak Petak (2)

Gagak Petak juga merujuk pada nama masukan khusus/elit yang tidak terkalahkan yang diberi nama pasukan Laskar Taruna Goak. Pasukan elit Goak/gagak adalah pasukan khusus yang dibentuk pada masa Anglurah Pandji Sakti ketika melakukan invasi (1639 M), terhadap Kerajaan Blambangan sehingga kekuasaan Buleleng terbentang luas hingga ke Blambangan. Pamor wusing wutah lembat dipercaya memiliki tuah untuk mempermudah datangnya rejeki. Pamor ini bukan tergolong pamor  pemilih sehingga dapat dimiliki oleh siapapun. HuluBentuk : Grantim Pada awalnya hulu/danganan keris ini berupa danganan togogan dari gading dan dihias dengan selut dan wewer khas Bali dari bahan emas dan dihias batu mulia. Namun karena kondisinya yang sudah berumur maka oleh Pande  Wayan Suteja Neka, keris tersebut dimuliakan...

Teknik Ajapa Gayatri

Menurut ajaran Samadhi Ajapa Gayatri, genitri atau japa mala yang dipakai pada saat Samadhi hanya berfungsi  sebagai alat bantu menghitung agar mantra yang diucapkan tepat sebanyak bilangan alam semesta yaitu 108 kali. Jadi,  peganglah genitri secara wajar.  Tidak perlu disembunyikan di balik lipatan baju atau kain agar tidak terlihat orang lain. Dalam Ajapa Gayatri yang diproses adalah tubuh spiritual pelaku Samadhi. Bukan genitri yang dipakai. Tujuannya agar terjadi transpormasi kesadaran. Dari kesadaran manusia menjadi kesadaran dewa. Dari spiritual profan menjadi spiritual suci. Kalaupun genitri yang dipakai selama Samadhi...

Pura Padharman Sukangeneb Sirearya Gajah Para, Tejakula, Buleleng, "Swamba sebagai Dasar Palinggih Gedong"

Meski dengan kondisi ekonomi pas-pasan, pretisentana yang awalnya berjumlah 5 dadia ini pantang menyerah, dengan modal tekad, kemurnian, ketulusan, dan semangat serta keyakinan yang tinggi berusaha sekuat tenaga dan dengan kemampuan yang ada mewujudkan Pura Pedarman ini yang kini memiliki pangempon tetap berjumlah 13 dadia tersebar di seluruh Bali. Rporter & Foto : Andiawan Begitu menginjakkan kaki di Jeroan Pura, tampak sejumlah palinggih dan bangunan pendukung lain tertata rapi. Di Jeroan Pura, pamedek dapat melihat sejumlah palinggih hasil karya tangan-tangan terampil dan berjiwa seni tinggi, ditambah sarana yang digunakan, hasil dari...

Ki Segara Jagadhita

Keris dhapur Sinom dipercaya sebagai keris pusaka yang memberikan tuah/symbol/filosofis kehidupan yang tenang, tentram, bahagia dan menyenangkan. Keris ini tergolong bilah keris yang bukan pemilih atau dapat dimiliki oleh golongan tua maupun muda. Keris ini adalah pusaka dari Puri Gede Buleleng, yang dibuat oleh Ida Pedanda Ngurah Sakti Lalandep dari Desa Banjar, Buleleng. BilahDhapur Sinom Robyog Sinom dalam Jawa berarti “pucuk daun asam Jawa” (Tamarindus): sinom juga dapat berarti “rambut halus yang tumbuh di dahi”, sinom juga dapat berarti pula “jenis tembang Bali/Jawa dalam kelompok sekar macapat”. Keris sinom memiliki kelengkapan rarincikan: sekar kacang/cunguh gajah, lambe gajah/cedar, jalen/tapi, sogokan, srawean, ada-ada/kalor,  ri pandan/kekujung, pijetan/tigasan. Apabila...

Pages 331234 »
Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More