Senin, 18 April 2011

Lontar Mengupas Satria Dalem Bali Minim

Lontar tertulis yang mengupas silsilah garis keturunan keluarga satria Dalem di Bali sangat minim, sehingga penting menyamakan persepsi guna bisa mengungkap keberadaan "trah" tersebut. "Sejarah atau silsilah tentang keberadaan 'trah' keluarga satria Dalem ibarat kertas tersobek-sobek yang sukar dibaca oleh generasi penerus dari pihak keturunan maupun 'pengelingsir' (tokoh)," kata  Pengageng Ageng (ketua umum) Kerta Semaya Trah Dalem Suhunantara Provinsi Bali, I Dewa Made Suamba Negara di Gianyar, Minggu.


Minimnya keberadaan lontar tertulis terkait keturanan dari salah satu "trah" leluhur di Bali itu, memunculkan perselisihan dan perbedaan pendapat soal keberadaannya. "Untuk itu sangat penting dilakukan penyamaan persepsi," ucapnya. Leluhur umat di Bali selain dari garis keturunan kesatria Dalem, seperti keluarga Puri Ubud, juga terdapat trah Brahmana, Pande dan Pasek.
Menurut Made Suamba, pihaknya sudah menyelenggarakan seminar menelusuri dinamika asal-usul "trah" atau keturunan satria Dalem di Hotel Royal Pitamaha, Desa Kedewatan, Ubud. Hasil seminar tersebut perlu ditindaklanjuti guna menyamakan persepsi soal keberadaan trah tersebut agar di antara mereka bisa menyatu.
Diingatkan bahwa belajar dari sejarah bukan berarti mengulangi pengalaman pahit,  yang justru memperkecil keberadaan trah Dalem. Tetapi sebaliknya untuk menciptakan hubungan harmonis dan menjaga persatuan serta kesatuan di antara lembaga yang disakralkan.
Ratu Dalem Pengelingsir Puri Klungkung, Prof Dr Tjok Raka pada kunjungan ke Kabupaten Gianyar mengajak semua "trah" keturunan Dalem untuk saling mendekat dan bersatu. "Persatuan dan kesatuan merupakan simbol perdamaian dan bhakti terhadap kawitan dan  leluhur," ujarnya.
Menurutnya, krisis Babad Dalem disebabkan minimnya lontar dan pustaka yang dimiliki, serta masih banyaknya silang pendapat dan perselisihan di antara anggota keluarga, sehingga proses pemersatuannya agak sulit. "Kita menyadari manusia tidak sempurna. Untuk itu tidak perlu diperpanjang yang berakibat ketertinggalan dalam tugas mulia," ucapnya. Leluhur Ratu Dalem tidak menghendaki adanya perpecahan. "Mari bersatu saling maaf- memaafkan," ujarnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More