Selasa, 26 April 2011

Mengenal Masyarakat Tengger (11), "Ritual Entas-entas"


Upacara Entas-entas secara khusus dilaksanakan untuk menyucikan atman (roh) orang yang telah meninggal dunia, yaitu pada hari yang ke-1000. Akan tetapi, pelaksanaannya sering diadakan sebelüm hari ke-1000 untuk meringkas upacara-upacara kematian itu.


iii. Entas-entas
Upacara Entas-entas dimaksudkan untuk menyucikan atman orang yang telah meninggal dunia agar dapat masuk surga. Biayanya cukup mahal oleh karena disertai dengan menyembelih kerbau jantan sebagai korban kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Pemotongan kerbau didahului dengan pembacaan mantra cukup panjang dan dalam waktu yang cukup lama pula, kurang lebih 2 jam. Sebagian daging kerbau tersebut boleh dimakan dan sebagian lagi untuk pelaksanaan korban.
Adapun mantra yang dibacakan, dalam bahasa Jawa Kuna, adalah seperti tersebut di bawah ini:“O, purwabumi kamulan Paduka Bhattari Uma mijil saking limun limunira Hyang Bhattara Guru; Mulaning ana Bhattari minaka somah bhattara; Magya sira bhattara, mayoga sira Bhattari, mijil ta sira dewata Panca resi, sapta resi; Kosika, Sang Garga, Maitri, Kurusya, Sang Pratanjala’ (Nancy; 1985).
Di beberapa daerah, mantra ini telah digunakan dengan bahasa Jawa baru, meskipun terjadi perubahan ucapan atau istilahnya (bdk, antara mantra yang digunakan di Ngadiwono dengan di Ngadas, Malang - lihat lampiran), namun maknanya masih tetap sejiwa.

(2) Beberapa Alat Upacara dan Perangkat Sesajen
i Alat-alat Upacara

Dalam pelaksanaan upacara Entas-entas, dukun mengenakan pakaian khusus dan menggunakan beberapa alat upacara. Pakaian khusus itu adalah:
i). Baju antrakusuma, sehelai kain baju tanpa jahitan, yang diperoleh sebagai warisan dari nenek moyangnya. Baju ini disimpan pada klanthongan sebuah tanduk yang disimpan di atas loteng (sanggar agung); di samping itu dipakai juga ikat kepala dan selempang.
ii). Prasen, berasal dari kata rasi atau praci (Skt) yang berarti zodiak. Prasen ini berupa mangkuk bergambar binatang dan zodiak. Beberapa prasen yang dimiliki oleh para dukun berangka tahun Saka: 1249, 1251, 1253, 1261; dan pada dua prasen lainnya terdapat tanda tahun Saka 1275. Tanda tahun ini menunjukkan masa berkuasanya pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi di Majapahit. Hal ini memperkuat anggapan bahwa penduduk Tengger berasal dari kerajaari Majapahit.
iii). Tali sampet, terbuat dari kain batik, atau kain berwarna kuning yang dipakai oleh pandhita Tengger.
iv). Genta, keropak dan prapen, sebagai pelengkap upacara.

ii Sesajen untuk Upacara Karo 

Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid ini.  Terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More