Senin, 25 April 2011

Petualangan I Ketut Nedeng di Dunia Spiritual

Hadirnya sosok spiritual  yang giat, tanpa pernah menyerah di saat suka maupun duka, adalah Ketut Nedeng orangnya. Dia bisa ke mana saja tanpa bekal yang memadai. Hanya mengandalkan keyakinan, dirinya bisa memberikan tuntunan kepada umat yang ada nun jauh di sana. Bahkan, dirinya pernah menjadi pengusada serta jro dasaran ulung, disegani, tapi pengalamannya menyebabkan orang …..!!! Ikuti cerita pengalamannya.

Reporter & Foto : Putu Patra


 I Ketut Nedeng

I Ketut Nedeng,   kiprahnya  di dunia spiritual dan pelayanan umat tak pernah henti oleh usia dan kesibukannya. Lelaki yang tinggal di Banjar Bolangan, Penebel, Tabanan ini selalu mantap memberikan pelayanan dengan mendirikan pasraman “Spiritual Dharma Santhi” yang berlokasi di banjarnya di Penebel.
Perjalanan I Ketut Nedeng sangat jelas dan selalu pergi dan melakukan aktivitas atas desakan niskala. Tak ayal lelaki tegas dan selalu berwacana blak-blakan ini tahu segala bidang kehidupan. Ayah sejumlah anak ini, bicara apa saja bisa. Ekonomi, hukum, politik, budaya, pertanian, apalagi masalah spiritual yang merupakan basic-nya.
“Semua yang saya tahu tidak asal-asalan, itu kehendak Ida Bhatara di Batukaru. Lebih-lebih menghadapi situasi buruk yang menimpa masyarakat, saya mau bela, asal berada di posisi yang benar, tapi tertindas,” ujar Nedeng tanpa tedeng aling-aling. Dengan keberaniannya ini, tentunya bukan prilaku arogan, masih bisa membela kebatilan ketika Tanah Lot dicaplok investor, sampai melakukan perlawan adu argumentasi, sampai adu fisik. Semua itu, cetus Ketut Nedeng, demi kebenaran, bukan sok jagoan atau pejuang kesiangan.
Dikatakannya lebih lanjut, keberaniannya itu, bukan aban-aban secara instan, seperti sasabukan, kakebalan. Tidak pernah bawa senjata, sasikepan, apalagi gagamet. Semua itu pantang baginya. Lalu, apa yang membuat dirinya pantang menyerah, walau didepak dengan senjata sekalipun? “Saya hanya menjalankan titah, wahyu Ida Bhatara di Gunung Batukaru. Saya memang pangayah, dan sering meditasi, matapa di lokasi tersebut. Semenjak itulah saya sangat getol nyunsung Siwa-Budha sebagai perpanjangan Ida Bhatara di Gunung Batukaru,” celoteh Ketut Nedeng.
Dia bukan hanya seorang spiritual tangguh, tapi ulet dan gesit. Guna menjalankan misi niskala ini, dirinya sudah biasa mundar-madir ke Jawa, dan daerah lainnya. Tujuannya, agar umat semakin mantap guna melaksanakan baktinya kepada leluhur, Hyang Widhi. Tanpa bakti, manusia tidak akan bisa mencapai kebahagiaan. “Karena baktilah manusia bisa hidup tenang, bakti adalah segala-galanya,” katanya memberikan alasan.
Tidak putus hanya di tataran spiritual, Nedeng juga sangat gesit membina umat di Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Banyuwangi, Solo, dan di wilayah kantong-kantong Hindu lainnya. di Pesanggaran, Banyuwangi, Ketut Nedeng sangat disegani. Dialah yang membina umat mulai dari nol. Bahkan dia melaksanakan upacara pawintenan bagi ribuan umat Hindu di Pura Segara Tawang Alun, di Pulau Merah, Pesanggaran. Itu baru sisi spiritual.
Dalam bidang pertanian, ia juga mampu mendistribusikan  bibit jati yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan hektar. Apa yang ia lakukan, bukan mencari untung atau uang untuk memperkaya diri. Demi petani, ayah Krisna ini tidak tanggung-tanggung mengorbankan harta miliknya.





Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid ini.  Terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More