Selasa, 26 April 2011

Sasananing Tukang Banten (26-habis), "Eteh-eteh Padudusan"

Merupakan peningkatan  dari Eteh-Eteh Panglukatan, oleh sebab itu semua peralatan dan sarana upakara yang digunakan pada Eteh-Eteh Panglukatan tetap dipakai dan ditambahkan dengan beberapa perlengkapan lainnya, sesuai dengan tingkatannya. Eteh-Eteh Padudusan juga sering dinamakan Banten Padudusan yang jenisnya ada dua macam, yakni Padudusan Alit dan Padudusan Agung.



a.             Sebuah Sibuh Pepek fungsinya sebagai cedok/alat pengambil Tirtha Panglukatan dari pangedangan. Sibuh Pepek dibuat dari sebagian kelapa yang telah dibersihkan serabutnya, dan pada bagian atasnya dibuatkan lubang untuk tempat memasangkan tangkainya dari cabang pohon dadap. Pada tangkai Sibuh Pepek diikatkan daun dadap, sasap dari janur dan uang kepeng 2 keping
b.            Sebuah tempeh atau yang sejenis, di dalamnya berisi sebuah caratan atau kendi kecil berisi air, sebuah bungkak atau kelapa muda gading makasturi dan tiga buah periuk tanah yang dipakai sebagai tempat Tirtha Panglukatan, Tirtha Pabersihan, dan toya anyar (yeh ening). Masing-masing periuk ditutupi dengan  jajahitan Padma dari janur.
Adapun jenis upakara atau banten yang menyertainya seperti: pabersihan, isuh-isuh, pungun-pungun, alasnya memakai sebuah taledan, di atasnya berisi nasi tumpeng atau muncuk kukusanlinting dilengkapi raka-raka, rarasmen dan sebuah sampyan nagasari berisi porosan, bunga dan rampe, prayascita, tebasan durmanggala, satu soroh suci, lis senjata berupa sejenis raringgitan yang menggambarkan senjata para dewa (Panca Dewata). Yaitu terdiri dari bajra, gada, naga pasa, cakra dan padma. disisipi
Bila dibuat senjata Dewata Nawa Sanga ditambahkan lagi empat buah yaitu, Mosala, Dupa,Trisula, dan Angkus.  Tiap jenis dibuat pada tiga lembar janur kelapa gading, dan dilengkapi dengan tabuh-tabuhan (arak, berem, tuak, toya anyar). Untuk pendeta yang memuja, dihaturi pula upakara banten suci satu soroh dilengkapi sasari/punia dan dilengkapi Dhaksina Gede.

8.30. Eteh-Eteh Padudusan
Merupakan peningkatan  dari Eteh-Eteh Panglukatan, oleh sebab itu semua peralatan dan sarana upakara yang digunakan pada Eteh-Eteh Panglukatan tetap dipakai dan ditambahkan dengan beberapa perlengkapan lainnya, sesuai dengan tingkatannya. Eteh-Eteh Padudusan juga sering dinamakan Banten Padudusan yang jenisnya ada dua macam, yakni Padudusan Alit dan Padudusan Agung.

    1. Padudusan Alit :
     Digunakan pada upacara tingkat madia  di Sanggah Pasaksi yang  memakai Catur RebahBabangkit Macagak/Bogem. Untuk bungkak atau kelapa muda diperlukan 5 jenis airnya yaitu terdiri dari kelapa gading, kelapa hijau, kelapa bulan, kelapa merah/udang, dan kelapa sudamala. dilengakapi dengan
      Pada pangedangan atau periuk tanah yang agak besar, berisi gambar nagapasa, dan di tengah-tengahnya gambaran padma selain itu digunakan sebuah kendi dan empat buah periuk disebut “Catur Kumbha”. Tiap periuk diikat dengan benang masing-masing disesuaikan dengan warnanya seperti untuk yang di timur memakai benang warna putih, merah di selatan, kuning di barat dan hitam di utara, serta yang di tengah-tengah dengan benang campuran dari keempat warna tersebut.
      Di dalam periuk masing-masing diisi bija, bunga sesuai warnanya, serta  air yang diambil dari tempat-tempat yang dipandang suci. Menggunakan cucukan yaitu binantang yang dipakai sebagai simbolis untuk mengambil segala noda dan kotoran pada tempat, diri seseorang ataupun bangunan, upakara yang mulutnya dicucuk-cucukkan pada yang bersangkutan.
      Pada Padudusan Alit,  memakai ayam dan itik putih, ayam dipandang untuk membersihkan anggota badan, dan itik membersihkan kepala atau siwa dwara. Pemujaannya ditujukan ke hadapan  Panca Dewata yaitu Dewa Iswara, Dewa Brahma, Dewa Mahadewa, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.


Untuk informasi selengkapnya, silahkan memesan tabloid ini.  Terima kasih.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More